Jalan-jalan dengan Anak Patah Tulang (1)

Menginap di Hotel Bifa Yogyakarta


"Eh bagaimana rencana kita ke Bromo?" Tulis Mbak T di Grup WA keluarga akhir tahun lalu. Lain-lainnya langsung ramai menimpali dengan semangat. Aku hanya menarik nafas panjang bacanya. Dengan berat hati kuketik juga kalimat "Aku nggak bisa ikut, Ken sedang sakit kakinya, nggak bisa jalan. Nanti aku bakal stand by di rumah nemenin mbah saja, sementara kalian ke Bromo". Begitulah kukatakan. Mereka ramai kembali memberi usul, "Tenang saja nanti Ken bakalan digendong, gantian, ramai-ramai". Aku hanya tersenyum kecut. Menyangsikan semua itu. Mana enak piknik sambil gendong-gendong  jauh, Ken itu sudah berat lho.

Kebetulan saat perbincangan itu terjadi, Mbak T lagi perjalanan ke Yogya untuk menjemput anaknya yang sekolah asrama. Sementara Mas A sekeluarga lagi mengunjungi saudara di Klaten. Sementara adikku S dan istrinya ternyata juga lagi perjalanan dari Bogor ke Ngawi. Aku usulin kita nginep di pinggir pantai di Yogya aja, terus barbequan rame-rame. Jadi nggak perlu gendong-gendong Ken. Waktu itu aku terinspirasi youtuber Korea, si Hansol, yang habis nginep villa sekeluarga. Akhirnya semua setuju bakal kumpul di Yogya. Kalau nanti pada mau ke Bromo silakan, yang penting udah kumpul bareng dulu.

Meski kaki Ken lagi sakit, kenapa aku nekat mau ajak jalan-jalan? Karena aku kasihan sama Ken, dia seminggu di kamar terus. Nggak bisa jalan. Kadang kugendong kutaruh di teras rumah. Ya gitu aja, kamar sama teras. Dia bolak balik nanya ke Ngawi kapan. Rupanya dia bosan. Makanya aku pingin ajak liburan, tapi ya nggak yang jauh-jauh banget. Keadaan Ken pun juga nggak masalah untuk melakukan perjalanan, asal digendong.




 Dari magrib Ken sudah "ngarep-ngarep" yang mau jemput siapa. Bolak balik tanya kapan dijemput, sudah sampai mana. Namun, karena ternyata mbak T sama S nyampai Solo sudah terlalu malam, rencana nginep di pantai dan barbeque-an bubar jalan. Mbak T mencoba mencari penginapan secara online di sekitar Prambanan, mengingat sekolah anaknya di daerah situ. Tetapi katanya pada penuh. Saat itu memang lagi liburan panjang akhir tahun. Kebetulan Mas A sudah sampai Yogya duluan, dapat penginapan di Hotel Bifa. Masih ada 2 kamar kosong katanya. Langsung saja minta dipesankan sekalian di situ.

Jam 21.30 aku baru berangkat dari rumah dijemput adikku. Agak kasihan juga sebenarnya,  dia nonstop nyetir dari Bogor sendiri tanpa istirahat, mana kondisinya lagi batuk. Tapi dia juga keras kepala banget, disuruh istirahat biar diganti sama sopire Mbak S nggak mau. "Udah langsung bablas Yogya aja, biar cepet sampai" katanya. Padahal Mbak T nungguin di Kartasura, malah ditinggal lewat Solo Baru wkwkwkwk.

Hujan menyambut kami ketika sampai di pelataran Hotel Bifa, hampir jam 12 malam. Suasana pun sepi, karena sudah larut dan ini hotel kecil. Ternyata dapat kamarnya di belakang. Agak gimana gitu ketika melewati lorong-lorongnya yang terkesan etnic, ternyata ketika kuperhatikan seksama dinding dan ornamennya dipenuhi dengan barang-barang tradisional. Bekas dari alat-alat tradisional, macam luku (bajak kayu), cikar/dokar (kereta sapi/kuda). Ternyata yang kamar belakang temanya tradisional. Cukup mengesankan dan terasa tersedot ke zaman kecilku.


Kamar-kamar yang belakang menghadap outdoor. Cewek-cewek berkumpul jadi satu kamar, cowok-cowok satu kamar, dan mbak T sama suaminya satu kamar. Kamarnya standar saja. Ada TV, AC, lemari. Hanya, keponakanku yang berumur 1,5 tahun takut sama ornamen patung kepala buddha dua dimensi. Tiap lihat itu nangis.



Oh ya, sayangnya kamar mandi di tiga kamar itu ada trouble-nya. Kamar cewek ngga ada kerusakan sih, tapi gantungan baju letaknya jauh menyebrangi closet. Repot jadinya mau nyantolin. Yang kamar cowok kran air dingin mati, jadinya air panas aja yang mengucur. Sementara kamar mbak T closetnya trouble. Untung di depan kamar ada kran, juga ada kamar mandi di luar. Jadi cukup membantu.




Oh iya, satu rombongan lagi keluarga temennya Mas A dapat kamar di dalam. Katanya sih bagus yang di dalam, ngga ada trouble apa-apa.

Kami ngobrol-ngobrol dulu di luar, saling berbagi cerita perjalanan masing-masing hari itu. Hingga tak terasa waktu mulai beranjak ke dini hari. Satu per satu mulai masuk ke peraduan masing-masing. Rasanya baru tidur beberapa menit, ketika suara-suara itu membangunkanku. Ternyata lagi pada heboh dapat broadcast tentang tsunami di Jawa Barat. Langsung saja kami menyalakan TV, dan benar saja. Sambil bergelung dalam selimut, kami menonton update berita tsunami, dan memikirkan beruntunglah kami tak jadi ke pantai.

Kamar paling belakang

Sambil sarapan yang dibeli dari penjual makanan di luar sana, kami membahas hendak ke mana hari ini. Tentu saja, bukan pantai tujuannya. Di bagian belakang hotel ini ada tempat terbuka yang cukup luas, bisa untuk sarapan bareng-bareng. Isi perut dulu sebelum melanjutkan perjalanan hari ini. 


Comments

  1. Duh kasian kakinya si adek, semoga lekas sembuh ya.
    Btw keren banget tuh hotelnya, unik banget!

    Natural dan anti mainstream ya, cucok buat foto-foto, etdah foto-foto aja hahaha

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bintang berjalan itu adalah satelit?

Alat Dapur Tradisional Jawa

Pengalaman Naik Bus Eka Ngawi - Surabaya PP