Menjejakkan Kaki di Surabaya (1)

Senangnya Bertemu Jalan Embong Malang

Kami sampai di rumah budhe di Taman, Sidoarjo hari kamis siang waktu duhur. Istirahat jadi pilihan utama kami selanjutnya, setelah naruh-naruh barang, makan dan sholat, agar nanti sore bisa jalan-jalan. Meski begitu aku tak sampai tidur, cuma rebah-rebahan aja sambil baca buku. Tapiiii itu tak lama, karena Ken mulai bete, ngrengak-ngrengik.
Dia nggak betah cuma tidur-tiduran sambil nonton TV. Mana aku lupa nggak bawain mainan. Tengak-tengok kok nggak nemu sesuatu yang bisa buat mainan. Mana tadi sudah tidur di perjalanan cukup lama.

Baca kisah perjalanannya di sini:http://www.thesweetmorning.com/2018/02/pengalaman-naik-bus-eka-ngawi-surabaya.html

Baiklah, mari kita bersenang-senang di halaman saja, sambil lihat pesawat-pesawat yang terbang cukup rendah di atas rumah budhe. Dia pun kembali ceria. Apalagi  sepupunya pada nyusul ke halaman. Akhirnya kami malah jadi nyapu halaman, nyabutin rumput, nyuci mobil segala. Rame deh di halaman hingga sore menjelang. Budhe kemudian ngoprak-oprak kami agar mulai bergantian mandi. Tahu sendiri kalau lagi kumpul itu pasti pada rebutan kalau mau mandi. Kamar mandinya cuma satu pula.

Jam 5 sudah siap semua, lalu aku mendengar Pakdhe ngomong ke Budhe kalau tujuan utamanya nanti ke Royal Plaza. Aku langsung mencegahnya. Di mana-mana mall itu palingan sama, entah di Solo atau Surabaya. Aku lebih ingin putar-putar Surabaya saja, apalagi ini sudah menjelang malam, pasti seru melihat wajah Surabaya di waktu malam. "Ini nanti kalau keblasuk-blasuk mbuh ya, merga iki belum ada yang paham tentang jalan di Surabaya" kata Pakdhe. Hahaha tentu ngga masalah kalaupun nanti keblasuk-blasuk, toh emang ngga ada tujuannya ke mana, putar-putar saja.

Beberapa saat menyusuri jalan besar Surabaya, pakdhe mengusulkan untuk makan dulu. Rawon setan di depan hotel J.W Marriot jadi pilihannya. Aku agak bergidik, mengingat lambungku lagi satru sama pedas. Ketika jalan dari parkiran mobil (parkirnya lumayan jauh) ke tempat rawon setan itu, aku baca di salah satu papan nama suatu bangunan bahwa jalan ini adalah Embong Malang. Waaahh akuu suuueeneng rek, bisa menjejakkan kaki di jalan Embong Malang. 

Apa pasal? Karena bacaan favorit masa kecilku dulu adalah Jayabaya (majalah mingguan berbahasa Jawa). Gimana nggak favorit, bacaan adanya juga cuma itu hehe. Nah, majalah itu beralamatkan di jalan ini. Jadi aku seperti sudah familiar banget dengan nama Embong Malang. Sayang nggak tahu pas-nya di mana alamat majalah itu. Kepuasan bisa menjejakkan kaki di jalan Embong Malang itu bisa membuat makanku terasa nikmat, meski rawonnya just so so. Oh ya, ternyata sambal rawonnya dipisah, jadi aku aman makannya.
Ketika kembali jalan menyusuri kota, aku seperti sudah pernah mengenal mayoritas nama-nama tempatnya. Aku merasa semacam de javu. Itu semua ya karena Jayabaya. Senang rasanya bisa tahu langsung tempat-tempat yang dulu cuma bacaan di majalah. Tunjungan Plaza, Gedung Grahadi, Monumen Kapal Selam, Jalan raya Darmo, Ketintang, dsb. Kebetulan budhe sekeluarga baru saja pindahnya, jadi belum begitu hafal dengan situasi kota Surabaya. Kami melihat dan baca semua tulisan-tulisan yang ada di pinggir jalan wkwkw.

Di satu tempat ada lampu-lampu cantik bergelantungan di atas sungai. Tempat apa tuh? Terdapat papan nama bertuliskan Taman Prestasi. Kayaknya ini taman umum, kita coba lihat pa? Kata budhe. Akhirnya kami turun dan melihat-lihat taman yang berada di pinggiran Kali Mas itu. Di pinggir kali terdapat perahu, mungkin kalau siang bisa dinaiki untuk menyusuri Kali Mas..atau untuk menyebrang ke sisi yang sana...entahlah. Taman ini nggak terlalu lebar, tapi memanjang di sisi sungai,  cukup bagus, tanamannya banyak, terawat, ada permainan-permainan untuk anak kecil, juga bekas pesawat tempur yang dipajang. Tentu Ken yang paling seneng ya yang bagian pesawat ini.

Menurut berita-berita yang di TV dulu itu kan memang Bu Risma gencar sekali dengan program tamannya. Mungkin ini salah satu karya beliau juga. Menurutku bagus memang, biar kotanya terlihat lega dan hijau. Surabaya sendiri dalam bayanganku panas, gerah dan sumpek. Tapi dalam beberapa hari kurasa ya sama saja, enggak yang terlalu ekstrim lah. Tapi ya entah kalau yang deket laut, atau pas musim kemarau, soalnya kemarin itu cenderung mendung terus wkwkwk (penilaian selintas).

(Bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Alat Dapur Tradisional Jawa

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi Brantas

Dokter THT di Karanganyar