Pengalaman Naik Bus Eka Ngawi - Surabaya PP

Liburan sekolah kemarin sejatinya 2 minggu penuh, namun karena seminggu pertama badanku terasa kurang fit, jadi ya di rumah saja dulu, baru seminggu kemudian ke rumah mbah Ngawi. Di sana beberapa hari, lalu ada ide ke Surabaya, karena budhe Ken yang di Tangsel sekarang pindah ke Surabaya. Jadi mumpung anak-anak pada kumpul semua, sekalian main bareng ke tempat baru budhe. Seneng sih aku, karena belum pernah mengeksplore Surabaya.

Berangkat ke Surabaya

Hari Kamis pagi (rencana berangkat shubuh, tapi kenyataannya jam 6.15) berangkatlah kami bertujuh (aku momong anak berapa orang saja ini) Sengaja pilih naik bus, agar anak-anak tahu cara naik bus. Secara sepupu Ken jarang (atau mungkin malah belum pernah) naik bus antar kota. Kalau Ken sih sudah sering banget naik bus Solo - Ngawi (soalnya pilihannya ya cuma itu wkwk).

Pakdhe A mengantar kami ke rumah makan Duta, tempat bus Eka berhenti beristirahat, penumpangnya pada makan dulu. Kalau mau naik dari terminal Ngawi juga bisa sih sebenarnya, cuma kalau di Duta busnya berhenti lama, jadi kita nggak terburu-buru kalau mau naik. Meski musim liburan, Alhamdulillah bus banyak yang kosong seats-nya. Jadi kami bisa duduk berkumpul berdekat-dekatan.

Jok kursi bus Eka


Fasilitasnya nggak terlalu jauh sama bus Ekonomi (Mira, Sumber Selamat), soalnya bus ekonomi sekarang juga pakai AC kan. Bedanya jok lebih empuk, dapat air minum mineral sama ambil penumpangnya nggak melebihi kapasitas, dan juga bus Eka nggak lewat kota Madiun. Oh iya ada lagi yang signifikan, sopirnya nyetir lebih pelan. .haha. Aiihh, ternyata banyak juga bedanya :D

Ada tempat barang di atas kursi


Harga tiket bus Eka Ngawi - Surabaya per penumpang yaitu Rp 65.000. Ken nggak aku ambilin kursi sendiri, jadi nggak bayar. Pilihan nggak ambil kursi sendiri ini udah bener banget, karena most of the time dia berdiri dan duduk di pinggiran jendela, kecuali pas matanya merem. Ini juga jadi pengalaman pertama Ken naik bus agak jauh. Biasanya kan Solo - Ngawi cuma 2 jam. Dia seneng banget, apalagi rame-rame sama mbak dan masnya.
Dengan pertimbangan takut jalanan macet dan sampainya lama, jadi aku bawain bekal nasi (selain jajanan juga) dan pospak. Pospaknya nggak aku pakein dari rumah, karena dia nggak mau. Baru aku pakein waktu dia ngomong kebelet pipis pas nyampe Mojokerto.

 Untung juga nggak ada yang mabuk, cuma mbak I yang katanya pusing dikit. Kami turun di pool bus Eka daerah Taman, Sidoarjo. Hihi aslinya rumah budhe bukan di Surabaya, tapi Sidoarjo ini siiihh.

Pulang ke Ngawi

Sebenarnya belum puas mainnya, tapi hari senin anak-anak pada harus balik ke pondok, jadi hari minggu harus sudah di rumah menyiapkan segala perbekalan. Akhirnya sabtu siang kami pulang. Tak ada yang memikirkan kalau hari itu adalah long weekend (30 Desember 2017) jadi kami tak memiliki gambaran bagaimana arus penumpang siang itu. Sebetulnya bapaknya mbak I sudah warning, pulangnya jangan siang-siang, nanti sampai Ngawi ndak kebengen. Tapi karena aku mikirnya mumpung bisa ke Surabaya, jadi paginya ketika mengunjungi tanggul semburan lumpur lapindo, sekalianlah mampir di tempat saudara di daerah Gempol, Pasuruan. Sudah deket banget soalnya.

Kami berangkat ke terminal Purabaya sehabis duhur. Wah ternyata terminalnya sudah beda dengan tahun 2009 lalu, sudah dirombak. Sekarang kalau mau pilih bus harus naik ke lantai dua dulu, lalu turun lagi di tempat jurusan masing-masing. Sayangnya aku nggak sempat foto-foto karena terburu-buru. Kami turun di tangga jurusan patas Solo/Yogya. Di jurusan lain tampak penumpang sudah berjubel. Dan aku bersyukur karena jurusanku lumayan sepi. Tapi itu ternyata sementara saja saudara saudara.... Karena sambil nunggu bus Eka yang nggak kunjung datang, penumpang di jurusanku makin bertambah, dan mulai berjejalan. Wah, blaik.... Aku nggendong anak mana bisa berebut sama yang lain. Mulai khawatir nih bagaimana nanti kalau bus datang, pasti orang-orang berebut mau naik.

Penumpang menunggu bus


Benar saja, begitu bus datang, orang-orang penginnya naik semua haha... Dan aku berhasil naik bersama Ken dan mas P. Tapi ketika aku melihat ke pintu, rombonganku yang lain belum naik, padahal kursi dah penuh. Ya sudah, akhirnya kami turun lagi. Lha aku kudu mastekne momonganku ra ana sing keri je. Penumpang yang menunggu bus semakin bertambah. Pakdhe D yang mengantar kami ke terminal akhirnya memutuskan naik bus dari pool Eka saja. Yaaeelahh.,, padahal kami kan dari Taman, sekarang balik ke Taman lagi, tau gitu tadi dari rumah langsung saja ke pool Eka...tinggal sekejap mata saja..
(oh iya, pas nunggu bus ini sekilas aku mendengar orang yang menawarkan jasa ojek "ojek..ojek ke garasi Eka 25 ribu")

Tapi memang niat awalnya biar anak-anak pada tahu Terminal Purabaya, dan tahu cara naik bus dari terminal. Jadi ya sudahlah...kami tak begitu menyesalinya. Akhirnya kami balik ke arah rumah budhe, tapi gak mampir lagi, dan langsung menuju pool Ekaa. Eh di sana ternyata sudah banyak penumpang juga meski nggak berjubel. Pakdhe D nanya-nanya, katanya suruh tunggu dulu, bus yang mau jalan lagi dicuci. . ooo...oo. 

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya ada bus yang siap berangkat. Alhamdulillah...nggak perlu rebutan. Dari pool sini saja bus sudah terisi separuhnya ternyata. Dan kita ikut bus ke terminal lagi, waah ternyata penumpang yang antri semakin banyak. Begitu pintu dibuka, wuuss langsung pada merangsek.

Antrian penumpang


Meski penumpang membludag, alhamdulillah nggak ambil penumpang berdiri, dan tarif-nya nggak dinaikkan. Tarif normal bus Eka Surabaya - Ngawi 65 ribu rupiah. Ini karena aku turun Ngawi jadi aku bilang pak kondekturnya, nggak pakai makan pak (kupon makan di rumah makan Duta Ngawi). Kalau mau kupon makannya, maka per orang tambah 13 ribu. Meski malam minggu, dan long weekend ternyata jalanan nggak ramai, jadi bisa on time sampai Ngawi 4,5 jam kemudian. 

Kami tetep pilih turun di rumah makan Duta saja, meskipun  kalau mau pilih dekat bisa turun di perempatan sebelum terminal. Demi keamanan dan kenyamanan karena rombongan anak-anak kecil ini. Biar aman karena baru saja kejadian kemarin sorenya, ada saudara yang naik bus Eka juga, mau turun di terminal lama Ngawi. Ketika persiapan turun (bus posisi jalan) beliaunya berdiri di dekat sopir, nah kebetulan bus menyenggol pantat truk, langsung deh saudara itu terlempar ke depan menembus kaca yang pecah dan terdampar di depan bus. Sempat pingsan beberapa saat, dan kepalanya terluka butuh beberapa jahitan.

Kalau turun di rumah makan Duta, karena bus memang mau istirahat, jadi kami nggak perlu buru-buru. Siap-siapnya ketika memang busnya sudah berhenti. Oh iya, kalau bus Eka yang menuju Surabaya, berhentinya di rumah makan Duta yang timur, sedangkan kalau bus yang jurusan Solo berhentinya di rumah makan Duta yang barat. Jarak antara kedua rumah makan ini beberapa ratus meter.




Comments

  1. Kayaknya busnya asyik juga ya mbak. Udah lama nggak naik bus, jadi pengen juga.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Alat Dapur Tradisional Jawa

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi Brantas

Dokter THT di Karanganyar