Kunci Bicara pada Anak


Kemarin waktu ngawasin anak-anak main, aku menemukan majalah Hadila di teras rumah. Majalah ini yang berlangganan adalah kakak ipar (Hadila ini bisa didapat dengan berinfak ke Solopos Peduli). Waktu kubaca-baca dapat artikel yang bikin aku "iya banget ih", yaitu tentang cara berbicara dengan anak. Ditulis oleh Miftahul Jinan dari Griya Parenting Surabaya, tulisannya berjudul "Bicara Singkat dan Jelas"

 Dari pengalamanku sendiri memang benar ya, kalau ngomong sama anak itu perlu trik juga. Ngomong panjang lebar, ngomel-ngomel, itu nggak perlu banget, karena mereka belum bisa nangkep seluruh isi omelan. Ini bisa dibuktikan kalau pas ngobrol santai gitu Ken sering bertanya tentang makna kata yang kugunakan. Berarti kosakata yang dimilikinya memang masih terbatas.

Menurut Miftahul, komunikasi yang tidak tepat ini bisa memicu perdebatan anak-ortu yang jika terlalu sering dapat menimbulkan hal yang kurang baik. Beberapa kondisi yang mendorong seringnya terjadi perdebatan, menurut Direktur Griya Parenting Surabaya ini adalah:

1. Belum adanya aturan jelas tentang sebuah perilaku yang diperdebatkan.

Contohnya saja adalah, Ken dulu pernah memberikan sebuah hotwheel kepada temannya, kebetulan ia memiliki 3 hotwheel. Waktu aku tahu kubiarkan saja, pikirku oh dia mau berbagi mainan kesayangannya. Tapi di kemudian hari dia minta lagi dibelikan hotwheel, dan bilang kalau yang hotwheel lama bakal dikasihkan lagi ke temennya.

Tentu saja aku menolak, dan timbullah perdebatan di antara kami. Ken merengek-rengek minta dibelikan dan berdalih kasihan si temen, hotwheel-nya cuma sedikit. Aku juga dengan ketus nggak mau beliin lagi, dengan alasan udah punya banyak, lebih tepatnya beberapa sih. Dalam hal ini aku waktu itu mungkin bingung harus bersikap bagaimana. Di satu sisi, bagus juga si anak punya sikap dermawan, di sisi lain juga merasa ogah beliin terus. Ini sebenarnya emaknya yang pelit kali ya wkwkwk. Mungkin nanti kalau kejadian lagi sebaiknya aku jelaskan kalau mau berbagi ya apa yang dipunyai itu dibagi.

Sering juga sih aku berdebat tentang berbagai hal dan biasanya Ken punya argumen tersendiri dari kacamatanya. Jadi memang ya aku harus bisa menahan diri untuk tidak ngomel, menuntut, dan selalu bersabar menjelaskan bagaimana seharusnya. Karena ketika nggak sabar, debat sama anak balita pun bisa jadi makanan sehari-hari.


2. Menegur anak untuk melakukan hal baik, tapi tidak fokus pada inti teguran.

Balik lagi pada kasus penyerapan makna kata yang belum sempurna, maka ketika berkomunikasi dengan anak sebaiknya menggunakan kalimat efektif. Contohnya saja seperti si om waktu mengajak Ken pergi ke masjid untuk sholat jumat. Untuk sholat jumat memang kadang Ken mau, kadang nggak mau, tergantung suasana hatinya. Kadang emang dia lagi kondisi ngantuk. Nah beberapa kali aku mendengar ucapan si om begini waktu mengajak sholat jumat.

Om: Dik Ken ayo sholat jumat!
Ken: Nggak mau.
Om: Ayo, laki-laki itu wajib sholat jumat!
Ken: Nggak mau.
Om: Ayo, kalau nggak mau sholat jumat pakai mukena saja di rumah!
 (Dengan nada nyinyir)

Efektifkah sindiran si om itu? Tentu saja tidak. Ken masih balita, dia belum nyantol apa hubungan nggak sholat jumat sama pakai mukena. Baguskah? Tentu saja aku sangat tidak mengharapkan orang mengucapkan kalimat itu kepada anak-anak. Semoga saja Ken tidak berpikir kalau anak laki-laki boleh pakai mukena.

Menurut Miftahul, sebaiknya setelah dua kali peringatan yang lembut, lalu ikuti dengan tindakan yang tepat. Misal kalau anak nggak mau berangkat karena nonton TV, maka matikan TV dengan lembut.

3. Faktor waktu yang kurang tepat dapat mendorong perdebatan. 

Hal ini benar banget, ketika anak baru saja mengalami "masalah" pasti mood-nya kurang bagus, dan ketika diajak komunikasi hasilnya pun kurang menyenangkan. Sebagai contoh, Ken dulu kalau jatuh atau diganggu sepupunya suka nangis. Dateng-dateng ke kamar udah sambil hoooa ...hoooaaa. Nah, kalau lagi nangis gitu, ditanyain juga nggak mau jawab. Padahal aku dah penasaran banget kenapa kok nangis. Jadi ya aku harus bersabar dulu, tunggu nangisnya berhenti. Kalau sudah berhenti nangis, biasanya dia akan ngomong sendiri kenapa tadi dia nangis.



Terus sering juga kadang mood-nya lagi nggak bagus, entah itu karena ngantuk atau lagi sedih karena satu hal, dia jadi enggan untuk ngomong. Sering tuh kejadian, Ken lagi nggak mood, lalu eyangnya/mbah/om nyuruh/menanyakan/minta sesuatu, karena nggak mood, Ken nggak merespon, lalu diulang-ulanglah pertanyaan/permintaan tadi hingga Ken jadi kesal, ngomongnya teriak-teriak. Begitu jawabnya teriak-teriak, yang nanya jadi kepancing emosi, nggak terima. Kalau sudah gini perlu ada penengahnya, kalau nggak, bisa-bisa Ken dapat kalimat-kalimat yang nggak diharapkan deh.

Itulah mengapa bicara sama anak itu perlu trik-trik khusus, sehingga tidak perlu terjadi perdebatan anak dan ortu. Ini bisa berlaku pada anak balita dan juga anak-anak remaja juga. Kalau ceritaku di atas berkaitan dengan anak balita ya. 





Comments

  1. Hihiu nek dah pasrah pake cara nyinyir juga yo mb nana, kayak yang nyindir pake mukena pas nda mau sholat jumat wakakkaka....
    Tapi terkadang diperlukan juga sih aura ibu harimau supaya anak ada itikad disiplin en tau konsekuensi. Nice tips mb
    #btw aku baru nyadar mb nana uda dotcom uhuy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukn sy yg nyinyir mbk mbul...hehe. Udh lm, n sy nyesel, krn jrg updte wkwkw

      Delete
  2. Yang pertama, kejadian juga sama Amay. Di SD ini aku kasih dia bekal 3rb tiap hari. Amay belum ngerti uang si sebenarnya, karena di rumah jg ga pernah jajan. Suatu hari pulang2 dia laper. Aku tanya td emang ngga makan catering? Makan, kata dia. Aku tanya lg jajan apa engga? Jajan. Tapi masih ada uang 1000 di kantongnya. Dia bilang cm jajan 1000, dan yg 1000 lg dikasihkan ke temannya yg katanya uangnya tunggal 1000. Wkwkwk.. Padahal aku tau, temannya itu uangnya banyak dan pasti udah habis buat jajan.

    Soal bicara efektif ini aku jg masih belajar bgt. Udah mulai mengurangi menginterogasi saat dia nangis atau marah. Ternyata mmg lebih efektif ketika suasananya santai, dia ngga tegang jd ceritanya pun lebih runut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ken klo nngis sush dtnyin, jd nunggu diem sik

      Delete
  3. Ini yg aku kdg msh susah.. Akunya ga sabaran, si anak jg jd makin ngeyelan.. Makanya urusan bicara ama anak, biasanya papinya yg maju mba, krn dia memang lbh sabar dan ngertian.. Kuncinya sabar sih ya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi Brantas

Ken Belajar Hiking di Air Terjun Srambang

Mengunjungi Keraton Solo : Ken Ribet Sendiri