Alat Dapur Tradisional Jawa



Kalau ngomongin peralatan dapur tradisional, aku yakin banyak teman-teman yang nggak memakainya lagi, bahkan muungkin banyak juga yang belum pernah memakainya. Peralatan dapur yang kumaksud di sini, yang versi tradisional, yang bahannya masih alami, dari tanah, batu dan kayu. Seperti irus (sendok sayur) yang masih tradisional kan dari kayu, sekarang juga masih ada, tapi bahannya sudah lain, seperti dari plastik, melamin, ataupun logam.

Kapan hari itu di rumah mbah aku mengamati dapur. Setelah kulihat-lihat ternyata banyak peralatan dapur tradisional yang masih nangkring di paga (rak kayu). Sebagian peralatan masih tetap dipakai sehari-hari, sebagian hanya dipakai sekali-sekali saja, biasanya kalau lagi ada hajat yang mengharuskan masak banyak. Nah, ada apa aja di dapur mbah?


1. Pawon

Ini bisa dibilang titik pusatnya dapur, karena kegiatan memasak pasti memakai alat ini. Pawon merupakan "kompor" untuk memasak, dengan bahan bakar kayu. Biasanya pawon terbuat dari batu kapur yang dibentuk kotak persegi panjang dengan bagian dalam berupa ruang kosong. Ada 2 lubang di bagian atas untuk tempat panci/wajan dan 1 lubang di depan untuk tempat memasukkan kayu bakar. Pawon batu kapur ini halus dan rapi, banyak dijual di pasaran. Selain pawon model itu, banyak juga yang membuat pawon sendiri dari batu bata dan adonan semen. Pawon ini nggak bisa dipindah-pindah, permanen di satu tempat.

 Mayoritas, bahkan mungkin semua rumah di kampungku masih punya pawon, meskipun ada yang jarang dipakai karena lebih memilih gas elpiji untuk masak sehari-hari. Pawon mbah masih sering dipakai juga, buat api-api, atau kalau masak yang banyak. Aku kalau di rumah mbah masih sering makai untuk merebus air buat mandi Ken (dan aku), lumayan buat ngirit gas, soalnya stok kayu bakar mbah banyak.

Pawon berbahan batu kapur
2. Tenggok, tumbu dan besek

Pada dasarnya ketiga benda ini adalah multi purpose basket yang sama-sama terbuat dari anyaman bambu. Tenggok berukuran cukup besar. Bisa buat wadah macem-macem sesuai kebutuhan, kecuali air karena bakalan bocor hehehe. Makanya sering juga dipakai buat meniriskan sesuatu. Tenggok terbuat dari anyaman bambu yang cukup kokoh karena memakai rangka yang kuat, sehingga awet.

Sementara, adiknya tenggok bernama tumbu. Tumbu ini berukuran kecil dan kurang kokoh, karena rangkanya cuma di bagian atas. Biasanya dipakai untuk mencuci bahan sayur atau apa saja yang muat ditaruh tumbu. Sementara besek adalah wadah yang paling kurang kokoh, karena tidak pakai rangka. Bisa dibilang besek ini adalah semacam wadah sekali pakai.

Tenggok, tumbu dan besek


3. Lumpang dan alu

Peralatan ini satu paket, saling melengkapi. Lumpang dan alu dipakai untuk menumbuk biji-bijian. Biasanya untuk menumbuk kacang buat sambel kacang, kopi untuk minuman, jagung, kedelai, kacang untuk pelas/bongko. Jaman dulu lumpangnya malah besar banget, terbuat dari kayu yang panjang. Bentuknya mirip perahu, digunakan untuk menumbuk gabah ataupun gaplek. Sekarang gabah sudah digiling pakai mesin selep, jadi lumpang besar sudah nggak ada lagi. Bahkan sekarang kalau lagi masak dengan jumlah banyak, sambel kacang dan lain-lainnya itu juga digilingin.


4. Layah dan uleg-uleg

Peralatan ini juga satu paket, di mana ada layah harus ada ukeg-uleg. Keduanya dipakai untuk menghaluskan sesuatu dalam jumlah tak terlalu banyak. Misal menghaluskan bumbu atau sambel. Temennya layah, yang bawahnya halus, nggak ada dudukannya namanya lemper. Layah terbuat dari tanah ataupun batu. Sementara uleg-uleg terbuat dari kayu ataupun batu.


5. Gentong

Gentong adalah alat untuk menyimpan air yang terbuat dari tanah liat. Bentuknya mirip guci tapi gendut banget. Dulu jaman aku kecil belum ada PDAM, jadi nggak ada aliran air bersih. Air bersih diambil dari belik pinggir sungai, diangkut dan disimpan dalam gentong ini. Untung aku belum merasakan tugas memenuhi isi gentong ini, karena aku masih terlalu kecil hehe. Air yang disimpan dalam gentong bisa terasa dinginnn, dinginnn segar.

Lumpang, layah dan gentong


6. Wingka

Wingka adalah wajan yang terbuat dari tanah. Kegunaannya untuk menggoreng tanpa minyak atau sangrai. Mbah biasa menggunakannya untuk menggoreng kopi atau kacang tanah yang hendak dibuat sambal. Fungsi lainnya untuk menghangatkan/memanggang makanan.

7. Kuali

Perkakas ini ibaratnya adalah panci yang terbuat dari tanah, untuk merebus makanan. Namun sekarang mbah jarang sekali memakainya, kecuali untuk merebus jamu. Kalau di daerah Solo sini yang terkenal yaitu soto kuali, soto yang dimasak di dalam kuali.

8. Tampah

Tampah berbentuk lingkaran yang cukup lebar, terbuat dari anyaman bambu yang digunakan untuk napeni beras. Tapen yaitu kegiatan membersihkan beras dari kotoran, sisa-sisa kulit padi, atau gabah yang masih nyempil. Kalau beli beras kemasan di toko atau supermarket itu kan sudah bersih banget ya? Nah beda kalau nggilingin sendiri di tukang selep, masih kotor sisa-sisa kulit padi, bahkan terkadang ikut serta batu kecil. Jadi perlu banget punya tampah. Tampah punya adik yang lebih kecil bernama tebok. Karena berbentuk lingkaran sempurna, maka kalau bulan purnama itu diperumpamakan "mbulane bunder sak tebok"

9. Tepas
Tepas a.k.a kipas merupakan benda yang kelihatannya sepele namun cukup besar jasanya. Kalau api di pawon terlanjur mati, maka tepas digunakan untuk menyalakannya kembali. Tapi kekurangannya, abu dan asap jadi bertaburan. Mbah kung masih sering membuatnya sendiri, sekali buat bisa 4 atau 5, so ngga hanya buat dapur saja, tapi dipakai buat kipas badan juga...wkwk.

Wingka, kuali, tampah dan tepas

10. Entong

Pernah denger nggak, "kalau perut sakit karena kekenyangan, kerokin aja pakai entong"? Itu tips dari orang jaman dahulu hehe, mungkin karena udah mentog gak tau harus ngapain ya, entong pun dikaryakan. Entong itu fungsinya buat mengaduk nasi yang sedang diliwet. Jadi entong begini punya pegangan panjang. Selain itu entong juga jadi alat penciduk nasi. Terbuat dari kayu, entong mempunyai berbagai ukuran. Mbah punya entong besar, sama Ken dibilangnya "dayung perahu" wkwkwk.

11. Irus

Irus terbuat dari bathok kelapa yang disambung dengan kayu. Kegunaannya untuk mengambil sayuran berkuah. Jadi ingat, dulu waktu SD suka disuruh bikin kerajinan ini kalau Agustusan, nanti hasilnya dipamerkan di acara bazar memperingati 17 Agustus. Kalau laris terjual senangnya minta ampun. Haha, simpel ya prakarya anak zaman dahulu.. Eh tapi dulu ngerjainnya rasanya juga nggak sesimpel gitu hihi.

12. Kukusan

Alat ini bentuknya lucu deh, kerucut gitu. Peralatan tradisional ini terbuat dari anyaman bambu yang agak jarang (tidak terlalu rapat). Kegunaannya untuk mengukus makanan, kalau sekarang fungsinya digantikan oleh sarangan dandang. Yang unik, kukusan ini kalau dipasang di panci, ujungnya bakalan nyemplung ke air. Nah biar bahan makanan nggak terendam air maka dihalangi dengan alat yang bernama "nyaton". Nyaton biasanya terbuat dari bathok kelapa yang dilubang-lubangi.

13. Parut

Adakah teman-teman yang jarinya suka terluka ketika menggunakan parut? Aku seringg...,haha. Parut merupakan alat yang digunakan untuk menghaluskan berbagai bahan makanan, seperti, kelapa, kunyit, kemiri, tomat dll. Yang paling sering aku parut ya kelapa, buat bikin sambal kelapa sama bothok. Kata seorang pengrajin parut, kayu yang paling cocok digunakan yaitu kayu melinjo, entah kenapa, mungkin karena kayunya liat dan ringan. Kayu kemudian dipasangi kawat-kawat kecil yang cukup tajam, makanya ketika mengenai tangan bisa bikin luka.

Kukusan, irus, enthong, parut


14. Beruk

Beruk yang ini bukan sejenis monyet lho yaa.... Ini adalah alat penakar bahan makanan yang berupa biji-bijian, macam beras, ketan, kacang kedelai, jagung, dll. Beruk terbuat dari bathok kelapa, dipilih yang cukup besar. Ukuran bathok kelapa tentu tak sama satu dengan lainnya, jadi ya ukurannya tak standar. Meski begitu orang zaman dahulu kayaknya nggak yang marah-marah jika beli beras jumlahnya nggak sama persis, ketika diukur pakai beruk sendiri.

15. Kelud

Orang zaman dulu kalau menyebut sapu adalah kelud. Tapi yang ini khusus sapu meja. Kalau sudah selesai masak, meja dapur sering kotor kan kena remah-remah dan sisa kulit sayur atau apalah-apalah. Nah, bersihinnya pakai kelud ini yang terbuat dari merang, yaitu gagang padi bagian atas.

Beruk dan kelud


Nah, itulah peralatan tradisional yang masih dipunyai Mbahnya Ken. Kalau di sini yang masih ada yaitu layah-uleg2 sama parut saja. Kalau teman-teman masih punya peralatan masak tradisional apa?










Comments

  1. wah ini masih ada semuanya dan aku baru tahu loh nama2nya tahu bentuknya doang hahaha..
    yang aku tahu paling gentong sama tampah mba hahhaa yang lainnya ga tau :p

    ReplyDelete
  2. Jadi keinget pas masih SD.
    Dulu masih banyak yang makai beginian di kampung.
    Sekarang udah digantiin alat-alat modern sih.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi Brantas

Ibu Rumah Tangga Penuh Semangat di Usia Cantik

Ken Belajar Hiking di Air Terjun Srambang