Sunday, April 2, 2017

Di Candi Cetho: Ken Marah Aku Pakai Kain Kotak-kotak



Mencium aroma libur panjang, orang-orang jaman sekarang langsung sibuk merencanakan jalan-jalan, ya nggak? Begitu juga kakakku yang langsung mendeklarasikan mau ke Dieng, aku sudah hore-hore aja, karena belum pernah ke sana. Tapi apalah daya, pas libur tiba, ternyata 3 keluarga nggak bisa. Ditambah ibuku nakut-nakutin, kalau ini musim hujan, nggak semestinya main ke gunung-gunung. Yo wisss... Nyeraaahh!

Tapi ternyata, ora marem kalau cuma diem aja di rumah. Buat ngobatin kekecewaan, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Candi Cetho (padahal ini di Lereng gunung Lawu juga, ibuku nggak protes apa-apa wkwkwk) karena jaraknya cukup dekat, pemandangannya bagus, sekaligus sekalian rombongan yang mau balik ke Tangerang bisa ikut dengan sekali jalan. Dari rumah mbah, Candi Cetho berjarak sekitar 36 km ke arah barat daya. Cukup dekat tapi jalannya naik turun, melewati perbukitan, seger pokoke buat cuci mata.... Beberapa kali aku lewat jalur ini kalau bosan lewat jalan raya Solo - Ngawi, dan pengin lihat yang ijo-ijo.

Rombongan 2 mobil, kali ini kami pakai konsep piknik, alias bawa bekal makan sendiri. Kebetulan, kami dapat tempat parkir yang di pinggirannya tersedia gazebo menghadap hamparan perbukitan. MasyaAllah, makan siang rasanya jadi super lezat, meski cuma lauk bothok sama dadar jagung. Kami sampai memang sudah menjelang duhur, karena waktu mau berangkat kedatangan tamu. Kemudian berangkat sudah hampir jam 11. Makanya begitu nyampe langsung ndudah bontot hehe, biar nanti kuat naiknya.

Pemandangan dari gazebo


Candi Cetho merupakan kompleks tempat ibadah umat Hindu, dan masih tetap digunakan. Makanya kakakku bertanya-tanya, mau sholat duhur di mana? Tapi tak usah khawatir, di area luar Candi Cetho ada musholanya, meski kecil, tepatnya di samping loket tiket masuk. Ketika ke kamar mandi airnya ampuuunnn deh, dingiiiiiinnn banget, mirip air rendaman es batu... Brrrrrrr. Selesai makan dan sholat, kita beli tiket, kemudian menyewa kain berpola kotak-kotak.

Pengunjung Candi Cetho memang diharuskan memakai kain kotak-kotak hitam putih itu di pinggangnya. Nah, dramanya di sini. Melihat aku melilitkan kain, Ken mulai rewel. Yang kemudian malah nangis kejer dan menarik-narik kainku. Nggak tahu apa yang ada di pikirannya, apa karena iri dia nggak dipakein? Hahaha. Drama itu berujung dengan dia nangis, nggak mau jalan, padahal rombongan udah pada berjalan masuk. Aku sendiri juga malas a.k.a nggak kuat kalau harus menggendong dia naik-naik tangga yang cukup tinggi.  Ditemeni mas Anto, akhirnya kami njogrog aja di bawah tangga. Ken masih nangis ndrenginging, mau digendong mas Anto juga ogah. Aku pasrah aja, toh udah pernah naik dulu. Duh Apaaakk.... Inilah nggak enaknya jalan-jalan tanpamu!!

Setelah beberapa lama, ternyata pakdenya Ken baru sadar kalau kami nggak ada di rombongan. Dia turun lagi dan menjemput kami. Untung Ken mau digendong pakdenya. Meski begitu, dia tetep nggak rela aku pakai kainnya. Ya sudah nggak kupakai. Eh di pintu masuk candi diingetin sama penjaganya. Aku sudah coba bilang, "Ini anak saya nangis pak, kalau saya pakai kain". "Ya anaknya nggak usah, ibunya saja". Elehhh, ternyata nggak mudeng sama maksudku. Kain jadinya cuma sekenanya aja kulingkarin pinggang, bapak penjaga puas, anakku juga diem (meski melirik penuh arti dan belum ikhlas).

Ken masih bete sama kainnya

Aku bahkan tak bisa mengamati candi dengan detail, tak bisa foto-foto dengan asyik, semua dengan sepintas lalu saja. Yang jelas Candi Cetho tempatnya asyik banget, adem, pemandangannya indah. Kawasan candi terbagi jadi beberapa level, makin naik, makin naik, hingga sampai puncaknya. Masih terdapat sesajen bunga dan dupa yang menyala. 

Ketika jalan ke luar di sebelah atasnya masih ada lagi Candi Kethek, tapi masuk ke sana harus beli tiket lagi. Beberapa anggota rombongan meneruskan ke atas, aku nyerah, pilih duduk-duduk di tempat orang jual minuman pesen teh panas. Kebetulan ada orang yang lagi naik motor offroad lewat, siapa yang seneng kayak gitu? Tentu saja Ken. Di sini dia sudah anteng, mau jalan sendiri.

Kawasan "foodcourt"
Ketika turun ini, kabut sudah mengepung, tak terlihat lagi pemandangan hijau menghampar seperti tadi. Justru yang masuk ke pengamatan waktu pulang, lihat kebun loncang/daun bawang yang luas, dan petani menyemprot daun-daun itu dengan royal..,,sroooozzzz.......srroooozzzz.... Kutanamkan dalam hati, kalau masak harus cuci sayuran bersih-bersih.

Kabut mulai mendekat

7 comments:

  1. Wah iyaa.. Pas ke Mojosemi kemarin juga kabutnya turun pekat banget.. Tapi asyik banget yaa.. Lain kali coba ke timur lagi Mbaa..hehe.. Seru loh di Mojosemi. :)

    ReplyDelete
  2. Hi mbak. Kayaknya seru nih jalan-jalan sebentarnya hihi. Kalo boleh tau ini daerah mana ya mbak? Kayaknya seger gitu. Jadi kangen kampung bapak di Trenggalek, hehe.

    ReplyDelete
  3. Wah candi ini penuh kenangan masa lalu mbak hihihihi... Aku dulu mau ke candi kethek nggak jadi, ternyata jalan kaki dulu wkwkw :D

    ReplyDelete
  4. Kalau pulang Solo kok aku jadi pngin mampir Candi Cetho hahahaha
    secara jarang bgt main ke tempat gituan mb duuug
    Meskipun nggak bisa lihat detailnya CANDI TAPI LUMAYAN ya bisa kesana sama keluarga

    ReplyDelete
  5. Aku sebenere pengen mbak ke cetho lagi. Tapi jalannya itu loh hemm. ngeri

    ReplyDelete
  6. Uih... pemandangannya seger.
    Ijo ijo.

    ReplyDelete
  7. temen-temen ku sudah pernah ke sini semua, dan yg belom saya sendiri :D
    ,,pengen lah sekali-kali ke sini


    koment back kak di Y U K G A S dot id

    ReplyDelete

Ibu Rumah Tangga Penuh Semangat di Usia Cantik

Umur kami terpaut cukup jauh, yakni 11 tahun, tapi entah kenapa banyak orang-orang yang keliru mengenali kami. Terutama simbah-simbah d...

popular posts