Friday, July 28, 2017

Mengganti SIM card yang Hilang dengan Nomer Sama


Pic: pixabay

Pernah mengalami HP hilang? Pasti rasanya nyesek dong yaaa....itu foto-foto yang ribuan, contact temen-temen yang segambreng, aneka sosmed yang nggak pernah log out nggak hapal pasword-nya... Duh duh sungguh tak terbayangkan. Dan itu semua habis kejadian sama Apak. Hari Sabtu kemarin, selang satu jam berangkat kerja, eh dia balik lagi. Ada yang ketinggalan katanya. Karena aku buru-buru ke kondangan, aku nggak bertanya lebih jauh. Satu jam kemudian dia sms pakai nomer baru, katanya HP ilang. Hmmm…., hasrat hati pengin langsung menyalahkan "piye tho pak ... pak... Kok isa ceblok ki?" Tapi kutahan, toh sudah kejadian, lagian juga pasti masih susah hati. Kan nggak enak dipojokkan. Aku sendiri juga pernah mengalami HP jatuh dari kantong saku soalnya, dan Apak juga nggak memarahiku, mana aku 2x kejadian lagi wkwkwk... Lebih parah mana?
 "Hmmm, mending yang jatuh dompetku deh, ketimbang HP!" seloroh Apak keesokan harinya.
 "Iya, dompetmu nggak ada isinya kan?" sahutku.
"Tepat, hahaha".

Apa saja yang harus dilakukan ketika tahu HP kita terjatuh?

Berkaca dari kejadian di atas, maka ada hal-hal yang harus segera kita lakukan, yaitu:
- Mencoba menelponnya, kalau aktif kita bisa bernegosiasi dengan penemunya. Hal ini terjadi pada kasus HP Soner-ku, kutelpon HP ku yang jatuh itu dan ada yang ngangkat, lalu dikasih alamat sama yang nemuin HP itu di mana aku bisa mengambilnya.
- Ketika ditelpon nggak nyambung, entah itu karena HP sudah rusak karena jatuh, atau diketemukan orang langsung dibuang kartunya, atau penemu enggan mengangkat telponmu,  maka gantilah pasword akun-akun sosmed, jika punya akun m-banking segera lapor ke bank yang bersangkutan
- jika HP dilengkapi dengan security system, coba cek email, di sana akan terekam posisi HP dan rekaman wajah orang yang mencoba membukanya (syarat dan ketentuan berlaku).
- Kemudian segera lapor ke provider layanan HP, minta nomernya diblok, dan mengganti dengan kartu baru dengan nomor yang sama.


 Mengganti SIM card dengan Nomer Sama di Grapari Telkomsel

Kebetulan Apak nomernya telkomsel, jadi dia langsung ke Grapari telkomsel Karanganyar. Apes-nya, pada hari Sabtu Grapari tutup. Namun akhirnya dapat info kalau Grapari telkomsel Hartono Mall buka sampai malam. Kutanyain sama temen di group WA, untuk mengurus kartu baru dengan nomer yang sama itu gimana? Katanya cukup bawa KTP sama daftar 10 nomer yang paling sering dihubungi. Nomer yang dipakai Apak itu dulu nomerku maka aku ikut ke Grapari, karena untuk mengurus ini tidak boleh diwakilkan dan tidak berlaku surat kuasa. Sampai Hartono Mall langsung celingak-celinguk nyari konter Grapari. Ternyata cukup mudah dicari, letaknya di seberang pintu masuk lantai 1.

Grapari Telkomsel Hartono Mall Solo


Begitu masuk kita ambil no antrian yang unik karena berupa kartu perdana yang ditempeli nomer. Kartu itu kemudian kita pindai ke alat pemindai, yang kemudian meminta kita memasukkan no HP. Setelah itu kita tinggal menunggu dipanggil.

Ambil nomor antrian di sini

Dan ternyata oh ternyata, nomer Apak itu bukan atas namaku, kata mas petugas yang unyu-unyu itu, nomornya masih acak alias datanya ngawur. Maka dari itu dilakukan "interogasi" untuk meyakinkan bahwa itu kartu kita, selain juga menyebutkan 5 nomor yang sering dihubungi. Pertanyaan-pertanyaannya cukup detail dan spesifik, yang mana kalau bukan pemegang kartu bisa jadi nggak bisa jawabnya.

Setelah ditanya ini-itu dan singkron dengan database telkomsel, maka diproses penggantian kartunya. Dengan mengganti kartu baru ini, sisa pulsa dan paket data yang ada di kartu yang hilang juga bisa ikut kembali. Syukur deh, Alhamdulillah. Yang paling penting nih, untuk mengganti SIMcard yang hilang dengan nomer yang sama ini, tidak dipungut biaya, alias gratiisss tisss.

Nah, ketimbang kehilangan HP, mending kita berhati-hati kalau membawa HP waktu perjalanan. Sebaiknya ditaruh tas saja, jangan ditaruh kantong atau dipegang tangan. Rawan banget jatuh kalau dikantongin, dan kalau ditenteng tangan rawan ketinggalan.

Monday, May 29, 2017

Menanamkan Kejujuran pada Anak Melalui Gernas Manjur


  •  Gerakan Nasional Pembelajaran Aku Anak Jujur

Pada tanggal 20 Mei 2017, hari sabtu kemarin dulu, diadakan kegiatan GERNAS MANJUR (Gerakan Nasional Pembelajaran Aku Anak Jujur) secara serentak di PAUD seluruh Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan oleh HIMPAUDI atas kerja sama dengan Kementrian pendidikan dan kebudayaan dan juga KPK. Nah, sekolah Ken kebagian menyelenggarakan kegiatan ini juga. Mengajarkan kejujuran memang harus sejak dini, makanya program ini menyasar kepada anak-anak PAUD.

 Kegiatan Gernas Manjur yang utama adalah kegiatan parenting, kali ini menghadirkan nara sumber yaitu mbak Niya Ayu Murti S.Pd yang memberi paparan tentang pentingnya nilai kejujuran. Sebagaimana kita lihat di TV dan juga di sekitar kita bahwa penerapan nilai kejujuran sangat kurang. Misal, pernah booming kan waktu itu berita ujian nasional rame-rame nyontek, yang nggak hanya siswa tetapi guru juga terlibat. Korupsi yang meraja lela, acuh sama peraturan demi kepentingan pribadi dll. Untuk yang terakhir ini, terlihat sekali masyarakat kita masih rendah sekali kesadarannya. Peraturan kalau cuma tertulis sebagai peringatan, tak akan dipatuhi. Baru patuh kalau ada petugas yang memaksa, itupun masih ada juga yang ngeyel.

Wednesday, May 17, 2017

Alat Dapur Tradisional Jawa



Kalau ngomongin peralatan dapur tradisional, aku yakin banyak teman-teman yang nggak memakainya lagi, bahkan muungkin banyak juga yang belum pernah memakainya. Peralatan dapur yang kumaksud di sini, yang versi tradisional, yang bahannya masih alami, dari tanah, batu dan kayu. Seperti irus (sendok sayur) yang masih tradisional kan dari kayu, sekarang juga masih ada, tapi bahannya sudah lain, seperti dari plastik, melamin, ataupun logam.

Kapan hari itu di rumah mbah aku mengamati dapur. Setelah kulihat-lihat ternyata banyak peralatan dapur tradisional yang masih nangkring di paga (rak kayu). Sebagian peralatan masih tetap dipakai sehari-hari, sebagian hanya dipakai sekali-sekali saja, biasanya kalau lagi ada hajat yang mengharuskan masak banyak. Nah, ada apa aja di dapur mbah?


1. Pawon

Ini bisa dibilang titik pusatnya dapur, karena kegiatan memasak pasti memakai alat ini. Pawon merupakan "kompor" untuk memasak, dengan bahan bakar kayu. Biasanya pawon terbuat dari batu kapur yang dibentuk kotak persegi panjang dengan bagian dalam berupa ruang kosong. Ada 2 lubang di bagian atas untuk tempat panci/wajan dan 1 lubang di depan untuk tempat memasukkan kayu bakar. Pawon batu kapur ini halus dan rapi, banyak dijual di pasaran. Selain pawon model itu, banyak juga yang membuat pawon sendiri dari batu bata dan adonan semen. Pawon ini nggak bisa dipindah-pindah, permanen di satu tempat.

 Mayoritas, bahkan mungkin semua rumah di kampungku masih punya pawon, meskipun ada yang jarang dipakai karena lebih memilih gas elpiji untuk masak sehari-hari. Pawon mbah masih sering dipakai juga, buat api-api, atau kalau masak yang banyak. Aku kalau di rumah mbah masih sering makai untuk merebus air buat mandi Ken (dan aku), lumayan buat ngirit gas, soalnya stok kayu bakar mbah banyak.

Pawon berbahan batu kapur
2. Tenggok, tumbu dan besek

Pada dasarnya ketiga benda ini adalah multi purpose basket yang sama-sama terbuat dari anyaman bambu. Tenggok berukuran cukup besar. Bisa buat wadah macem-macem sesuai kebutuhan, kecuali air karena bakalan bocor hehehe. Makanya sering juga dipakai buat meniriskan sesuatu. Tenggok terbuat dari anyaman bambu yang cukup kokoh karena memakai rangka yang kuat, sehingga awet.

Sementara, adiknya tenggok bernama tumbu. Tumbu ini berukuran kecil dan kurang kokoh, karena rangkanya cuma di bagian atas. Biasanya dipakai untuk mencuci bahan sayur atau apa saja yang muat ditaruh tumbu. Sementara besek adalah wadah yang paling kurang kokoh, karena tidak pakai rangka. Bisa dibilang besek ini adalah semacam wadah sekali pakai.

Tenggok, tumbu dan besek


3. Lumpang dan alu

Peralatan ini satu paket, saling melengkapi. Lumpang dan alu dipakai untuk menumbuk biji-bijian. Biasanya untuk menumbuk kacang buat sambel kacang, kopi untuk minuman, jagung, kedelai, kacang untuk pelas/bongko. Jaman dulu lumpangnya malah besar banget, terbuat dari kayu yang panjang. Bentuknya mirip perahu, digunakan untuk menumbuk gabah ataupun gaplek. Sekarang gabah sudah digiling pakai mesin selep, jadi lumpang besar sudah nggak ada lagi. Bahkan sekarang kalau lagi masak dengan jumlah banyak, sambel kacang dan lain-lainnya itu juga digilingin.


4. Layah dan uleg-uleg

Peralatan ini juga satu paket, di mana ada layah harus ada ukeg-uleg. Keduanya dipakai untuk menghaluskan sesuatu dalam jumlah tak terlalu banyak. Misal menghaluskan bumbu atau sambel. Temennya layah, yang bawahnya halus, nggak ada dudukannya namanya lemper. Layah terbuat dari tanah ataupun batu. Sementara uleg-uleg terbuat dari kayu ataupun batu.


5. Gentong

Gentong adalah alat untuk menyimpan air yang terbuat dari tanah liat. Bentuknya mirip guci tapi gendut banget. Dulu jaman aku kecil belum ada PDAM, jadi nggak ada aliran air bersih. Air bersih diambil dari belik pinggir sungai, diangkut dan disimpan dalam gentong ini. Untung aku belum merasakan tugas memenuhi isi gentong ini, karena aku masih terlalu kecil hehe. Air yang disimpan dalam gentong bisa terasa dinginnn, dinginnn segar.

Lumpang, layah dan gentong


6. Wingka

Wingka adalah wajan yang terbuat dari tanah. Kegunaannya untuk menggoreng tanpa minyak atau sangrai. Mbah biasa menggunakannya untuk menggoreng kopi atau kacang tanah yang hendak dibuat sambal. Fungsi lainnya untuk menghangatkan/memanggang makanan.

7. Kuali

Perkakas ini ibaratnya adalah panci yang terbuat dari tanah, untuk merebus makanan. Namun sekarang mbah jarang sekali memakainya, kecuali untuk merebus jamu. Kalau di daerah Solo sini yang terkenal yaitu soto kuali, soto yang dimasak di dalam kuali.

8. Tampah

Tampah berbentuk lingkaran yang cukup lebar, terbuat dari anyaman bambu yang digunakan untuk napeni beras. Tapen yaitu kegiatan membersihkan beras dari kotoran, sisa-sisa kulit padi, atau gabah yang masih nyempil. Kalau beli beras kemasan di toko atau supermarket itu kan sudah bersih banget ya? Nah beda kalau nggilingin sendiri di tukang selep, masih kotor sisa-sisa kulit padi, bahkan terkadang ikut serta batu kecil. Jadi perlu banget punya tampah. Tampah punya adik yang lebih kecil bernama tebok. Karena berbentuk lingkaran sempurna, maka kalau bulan purnama itu diperumpamakan "mbulane bunder sak tebok"

9. Tepas
Tepas a.k.a kipas merupakan benda yang kelihatannya sepele namun cukup besar jasanya. Kalau api di pawon terlanjur mati, maka tepas digunakan untuk menyalakannya kembali. Tapi kekurangannya, abu dan asap jadi bertaburan. Mbah kung masih sering membuatnya sendiri, sekali buat bisa 4 atau 5, so ngga hanya buat dapur saja, tapi dipakai buat kipas badan juga...wkwk.

Wingka, kuali, tampah dan tepas

10. Entong

Pernah denger nggak, "kalau perut sakit karena kekenyangan, kerokin aja pakai entong"? Itu tips dari orang jaman dahulu hehe, mungkin karena udah mentog gak tau harus ngapain ya, entong pun dikaryakan. Entong itu fungsinya buat mengaduk nasi yang sedang diliwet. Jadi entong begini punya pegangan panjang. Selain itu entong juga jadi alat penciduk nasi. Terbuat dari kayu, entong mempunyai berbagai ukuran. Mbah punya entong besar, sama Ken dibilangnya "dayung perahu" wkwkwk.

11. Irus

Irus terbuat dari bathok kelapa yang disambung dengan kayu. Kegunaannya untuk mengambil sayuran berkuah. Jadi ingat, dulu waktu SD suka disuruh bikin kerajinan ini kalau Agustusan, nanti hasilnya dipamerkan di acara bazar memperingati 17 Agustus. Kalau laris terjual senangnya minta ampun. Haha, simpel ya prakarya anak zaman dahulu.. Eh tapi dulu ngerjainnya rasanya juga nggak sesimpel gitu hihi.

12. Kukusan

Alat ini bentuknya lucu deh, kerucut gitu. Peralatan tradisional ini terbuat dari anyaman bambu yang agak jarang (tidak terlalu rapat). Kegunaannya untuk mengukus makanan, kalau sekarang fungsinya digantikan oleh sarangan dandang. Yang unik, kukusan ini kalau dipasang di panci, ujungnya bakalan nyemplung ke air. Nah biar bahan makanan nggak terendam air maka dihalangi dengan alat yang bernama "nyaton". Nyaton biasanya terbuat dari bathok kelapa yang dilubang-lubangi.

13. Parut

Adakah teman-teman yang jarinya suka terluka ketika menggunakan parut? Aku seringg...,haha. Parut merupakan alat yang digunakan untuk menghaluskan berbagai bahan makanan, seperti, kelapa, kunyit, kemiri, tomat dll. Yang paling sering aku parut ya kelapa, buat bikin sambal kelapa sama bothok. Kata seorang pengrajin parut, kayu yang paling cocok digunakan yaitu kayu melinjo, entah kenapa, mungkin karena kayunya liat dan ringan. Kayu kemudian dipasangi kawat-kawat kecil yang cukup tajam, makanya ketika mengenai tangan bisa bikin luka.

Kukusan, irus, enthong, parut


14. Beruk

Beruk yang ini bukan sejenis monyet lho yaa.... Ini adalah alat penakar bahan makanan yang berupa biji-bijian, macam beras, ketan, kacang kedelai, jagung, dll. Beruk terbuat dari bathok kelapa, dipilih yang cukup besar. Ukuran bathok kelapa tentu tak sama satu dengan lainnya, jadi ya ukurannya tak standar. Meski begitu orang zaman dahulu kayaknya nggak yang marah-marah jika beli beras jumlahnya nggak sama persis, ketika diukur pakai beruk sendiri.

15. Kelud

Orang zaman dulu kalau menyebut sapu adalah kelud. Tapi yang ini khusus sapu meja. Kalau sudah selesai masak, meja dapur sering kotor kan kena remah-remah dan sisa kulit sayur atau apalah-apalah. Nah, bersihinnya pakai kelud ini yang terbuat dari merang, yaitu gagang padi bagian atas.

Beruk dan kelud


Nah, itulah peralatan tradisional yang masih dipunyai Mbahnya Ken. Kalau di sini yang masih ada yaitu layah-uleg2 sama parut saja. Kalau teman-teman masih punya peralatan masak tradisional apa?










Sunday, April 2, 2017

Di Candi Cetho: Ken Marah Aku Pakai Kain Kotak-kotak



Mencium aroma libur panjang, orang-orang jaman sekarang langsung sibuk merencanakan jalan-jalan, ya nggak? Begitu juga kakakku yang langsung mendeklarasikan mau ke Dieng, aku sudah hore-hore aja, karena belum pernah ke sana. Tapi apalah daya, pas libur tiba, ternyata 3 keluarga nggak bisa. Ditambah ibuku nakut-nakutin, kalau ini musim hujan, nggak semestinya main ke gunung-gunung. Yo wisss... Nyeraaahh!

Sunday, February 26, 2017

Mengunjungi Keraton Solo : Ken Ribet Sendiri

keraton solo


Ternyata sudah cukup lama juga aku kliwar-kliwer di Solo, belasan tahun. Meski begitu, tak juga aku mengenali setiap sudutnya. Tempat yang jadi ikon kota Solo, yaitu keraton pun belum pernah aku kunjungi, baik Keraton Kasunanan ataupun Mangkunegaran. Entahlah dari dulu sebenarnya sudah mewacanakan, tapi kok ya nggak jadi-jadi. Padahal nih lewat depannya sudah nggak keitung lagi. Malah pas jaman kerja itu hampir tiap hari lewat pelatarannya Keraton Kasunanan, tapi ya nggak bisa mampir, pulangnya saja sudah sore banget. Pernah juga waktu itu sama Apak dan Ken berniat banget mau mampir, tapi ndelalah kok sampai pintu masuknya lagi direnovasi. Gagal deh ...  Awal tahun ini Alhamdulillah aku berhasil mengunjungi Keraton Kasunanan Solo, ceritanya bagaimana??

Monday, January 16, 2017

Aneka Olahan Tuna Sebagai Oleh-oleh Khas Pacitan

Pacitan sekarang lagi hitzzz dengan wisata pantainya. Coba saja tengok, beragam pantai dengan keunikan masing-masing siap dieksplor. Ada Pantai Teleng, Pantai Klayar, Pantai Soge, Pantai Watukarung, Pantai Srau dan yang lain-lain. Karena memang wilayahnya di pinggir laut, jadi Pacitan dianugerahi banyak pantai cantik dan hasil laut yang melimpah.... Duh senangnya ya bisa dapat ikan laut segar dengan mudah...bisa gampang buat pempek, siomay, tekwan #mimpibangetbuatpempek . Nggak kayak kami yang di kaki gunung, ikan laut tahunya ya cuman "gerih", itupun formalinan kakaaaakkkk!

Ibu Rumah Tangga Penuh Semangat di Usia Cantik

Umur kami terpaut cukup jauh, yakni 11 tahun, tapi entah kenapa banyak orang-orang yang keliru mengenali kami. Terutama simbah-simbah d...

popular posts