Balada Naik Commuter Line Rawa Buntu - Depok PP

Buat warga Jabodetabek, naik commuter line atau KRL tentu sudah tidak asing lagi. Karena moda transportasi satu ini sekarang cukup menjadi favorit masyarakat. Di samping bebas macet, juga murah meriah, dan armada tersedia cukup banyak, sehingga jarak antara kereta satu dengan yang lainnya berdekatan, kira-kira hanya 10 menitan. Andai punya jempol 10, saya pengin mengacungkan semua ke PT KAI, karena berkat kerja kerasnya, commuter line sekarang bisa diandalkan. Bayangkan saja, dari yang penumpang gelap berjubel hingga naik-naik ke atap, sekarang jadi begitu tertibnya bertiket, tentu usaha PT KAI tak semudah membalikkan telapak tangan. Nah, sekarang saya mau cerita tentang drama naik KRL kami, warga Timur-Tengah ini (Jawa Timur dan Jawa Tengah).

Ceritanya, waktu main ke rumah kakak di BSD City, kami hendak mengunjungi pula sepupu kami yang tinggal di daerah Perumnas Depok Utara. Hari itu hari Senin, sehingga tak ada yang bisa mengantar kami. Ada mobil sebenarnya, tetapi suami nggak bisa nyetir haha. Setelah mengamati google maps, ada niat untuk naik motor juga, kayaknya kok ngga terlalu jauh kalau lewat Parung, tetapi ternyata STNK motor tak ada. Akhirnya diputuskan untuk naik KRL saja, sekalian mencoba naik KRL sendiri.

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya saya naik KRL. Tahun 2012 saya sudah pernah naik, tetapi sistemnya belum pakai nge-tap kartu, dan lagi saya naik dari Tanah Abang - Rawa Buntu tidak perlu transit, so semuanya berjalan smooth. Oh ya, sampai tahun 2012 kereta dari Jawa ada yang berhenti di Tanah Abang, jadi gampang lah atuh kalau mau ke BSD. Tinggal naik KRL ke Rawa Buntu. Tetapi sekarang, kereta ekonomi dan bisnis semua berhentinya di Stasiun Pasar Senen, jadi susah lah itu jalurnya kalau mau ke BSD hiks (malah curhat).

Kalau mau ke BSD City, stasiunnya Rawa Buntu

Sebenarnya lagi, dua hari sebelum ke Depok ini, kami juga sudah naik KRL Rawa Buntu - Tanah Abang PP lho. Malahan suami dan Ken nambah sampai Pasar Senen. Jadi ini sama sekali bukan naik KRL pertama kalinya. Masalahnya adalah, sebelumnya yang ngurusin tiket segala macam adalah kakak. Kami tinggal mengekor saja. Dan ternyata ketika kami benar-benar mencoba sendiri, hasilnya adalah DRAMA hahaha.

 Petualangan terjadi hari Senin 11 April 2016. Dari rumah kami berangkat jam 10 pagi, naik motor ke Stasiun Rawa Buntu. Setelah memarkir motor, lanjut beli tiket di konter penjualan. Kami hanya beli tiket 2 biji turun Stasiun Depok, karena Ken masih digendong jadi keliatannya pasti masih kecil, meski kalau dari ukuran tingginya sudah 90 cm (aturannya, anak dengan tinggi 90 cm ke atas harus beli tiket sendiri). Sebelumnya, Ken juga tidak dibeliin tiket dan aman-aman saja haha.

Dari awal saya memang sudah agak senewen, karena suami kalau ditanya turunnya mana, dia jawab tidak tahu. Memang sih alamat si sepupu baru saja pindah. Tetapi suami pernah tinggal setahun di Depok, paling nggak kan tau ancer-ancernya. Tiap kali kusodori google maps dan rute kereta, suami tak antusias untuk mengamatinya. Jadilah saya asal beli tiket turun Depok. Begitu dapat tiket, kami masuk peron dengan melewati pintu berpalang yang bisa dibuka dengan kartu tiket kita. Aku dan suami bersebelahan dan langsung menempelkan kartu ke mesin pemindai. Begitu kutempel, palang terbuka dan aku langsung masuk. Sementara suami masih belum bisa. Di sini aku tambah senewen "ihh, gitu aja kok gak bisa sih".

Rute commuter line
Sumber: www.krl.co.id

Karena tempal-tempel tidak bisa, calon penumpang sebelahku memanggilkan petugas. Petugas malah menanyakan tiket Ken, dijawab suami bahwa Ken masih kecil. Tak percaya, petugas lantas menyuruh Ken diukur tinggi badannya pakai ukuran yang memang sudah disediakan, hasilnya 90 cm. Hahaha. dan akhirnya suami balik lagi beli tiket Ken, dan pakai tiket itu akhirnya berhasil masuk. Ketika menunggu suami beli tiket itulah, saya baru sadar bahwa ternyata kejadian tersebut akibat kesalahan kami berdua. Yaaa, aku juga salah. Udah PD nyalahin suami, ternyata aku juga. Hahahaha. Salahnya yaitu kami sama-sama memegang kartu pakai tangan kanan, sehingga refleks kami menempelkan ke mesin sebelah kanan kami. Harusnya ke mesin sebelah kiri kami. Hasilnya, suami membuka palangku, dan aku membuka palang sebelahku yang kosong tak ada orang.. Alamaak..

Tak berapa lama kemudian kereta jurusan Tanah abang datang. Karena sudah siang kereta sangat longgar, kami bebas memilih tempat duduk. Setengah jam kemudian kami sampai Stasiun Tanah Abang, kemudian ganti kereta jurusan Bogor. Di dalam kereta aku memperhatikan rute dan menanyakan kembali ke suami turunnya bener di Depok atau Depok Baru. Tapi tanggapannya kembali menyebalkan. Akhirnya sesuai tiket, turunlah kami di Stasiun Depok. Turun jlek, kami bingung, mau di bawa kemana langkah kita!?? Aku lihat google maps, wah ternyata jauh sama tujuan. Sambil beli cemilan, bertanyalah ke abang2 penjual.

Suami: "Bang, kalau mau ke perumnas Depok Utara dari sini naik apa ya"?
Abang: Bisa naik taksi, atau angkot no. sekian (lupa no berapa). Tapi lumayan jauh. Harusnya tadi turun di Stadiun Depok Baru.
Suami: Oh, gitu ya. Makasih bang.

Mendengar semua itu, aku bilang sebaiknya kita naik kereta lagi saja balik ke Depok Baru. Selain murah, cuma 2 rb, aku jg males ke jalan raya buat naik angkot atau taksi karena kelihatan jalan raya nya jauh dari stasiun. Akhirnya balik lagi ke dalam stasiun dan beli tiket ke Depok Baru. Sampai Depok Baru termangu-mangu, ini jalan rayanya mana?? Akhirnya ngikutin aja penumpang lain, lewat jalan setapak di area kayak bekas kebun singkong gitu (seingetku). Tetapi kok malah nemunya pintu belakang sebuah mall.. Oh my God!!! Akhirnya kita masuk aja ke mall tersebut dan makan. Soalnya sudah setengah 2, perut sudah lapar, bawaannya mau perang mulu sama suami.

Ken malah suka gelantungan begini ketimbang aku pangku

Dari foodcourt mall di lantai atas, terlihatlah bahwa jalan raya ada di depan mall, dan ada terminal di samping mall. Aku tanya ke mbak2 penjual kalau mau ke …. (Aku tunjukin google maps), naik angkot nomor berapa. Kata mbaknya naik angkot no. 4 dari terminal itu. Pesan adikku harus pulang sebelum jam kantor bubar (karena kereta bakal penuh sesak) tak terpenuhi. Ya gimana, jam 2 aja belum nyampe tujuan. Selesai makan kita berniat naik angkot, tetapi baru nyampai lobi mall, hujan mulai turun. Wah piye iki? Kebetulan ada taksi yang drop penumpang, " kita naik taksi aja" kata suami. Ternyata rumah yang dituju cukup dekat dari mall tadi, dan nggak terlalu masuk gang, jadi gampang nyarinya. Taksinya cuma bayar 17 rb. Fiiuuhh lega deh bisa sampe.

Jam 5 lebih kami pamit pulang, lalu naik angkot ke stasiun. Tak lama munggu di stasiun, kereta jurusan Jakarta datang. Kami langsung naik. Kereta cukup sepi, banyak bangku kosong. Giraang lah. Tapi itu hanya sementara hahaha. Karena aku kemudian memperhatikan rute di atas pintu. Ohhh gustiiiiiii.......salah naik keretaaaa!!! Aku berbisik ke suamiku bahwa keretanya salah. Kita kan menuju Tanah Abang, nah yang kita naiki ini jurusan Jakarta Kota, nggak nglewatin Tanah Abang. Untung saja perutku sudah kenyang dijamu tuan rumah tadi. Kalau lapar, pasti suami kuajak perang dah. Jadi aku tenang saja. Nanti kita ganti kereta lah. Suami mengajak ganti di Manggarai, tapi aku pilih yang terdekat saja. Mendekati Jakarta Pusat takutnya banyak orang2 pulang kantor juga mau naik kereta, ntar malah berebutan

Akhirnya kami turun di Stasiun Tanjung Barat. Cukup lama juga kereta yang melewati Tanah Abang datang. Di situlah kami mengamati kereta-kereta yang dari arah Jakarta ke Bogor penuh sesak umpel-umpelan. "Huhu kayaknya nanti yang Tanah Abang- Serpong juga begitu deh" ratapku. Ken mah seneng-seneng aja liat kereta wara-wiri (tapi yang gendong lumayan jempor juga).

Seperti dalam bayangan, sampai stasiun Tanah Abang ramenya bukan kepalang. Suami nanya ke petugas yang kebetulan didekatnya, kereta sampe jam berapa sih operasinya. Kata petugas commuter line beroperasi sampai setengah sebelas malam. Syukurlah, kami jadi tenang. Kalaupun belum keangkut masih banyak kereta nantinya. Begitu ada kereta datang kami nggak ikut rebutan naik, biar agak longgar, pikir kami. Bener aja, yang pada nunggu tadi sudah bersih keangkut. Tapi beberapa detik kemudian berbondong-bondong orang turun anak tangga, dan penuh orang lagi di pinggir jalur kereta. Hahaha...kami jadi ikut merasakan serunya bubaran kantor di Jakarta deh. Kereta datang lagi, dan kami langsung naik. Kursi sudah penuh semua. Tapi kami punya senjata ... KEN...hihi. Berbekal gendong anak kami jadi dapat kursi deh, meskipun ke sana ke mari yang gendong suami, tapi begitu dapat kursi aku lah yang duduk mangku Ken. Hehe..

Sampai Rawa Buntu, begitu turun, nge-tap kartu semua lancar. Aku kira sudah selesai urusan. Giliran balikin kartu, kata petugas "ini yang satu belum di-tap".. Oh,  iya tiketnya Ken gak kepikiran buat nge-tap. Balik lagi jadinya....ternyata drama belum selesai ;)


Overall aku sangat menikmati perjalanan ini.


Tips Naik Commuter Line:

  1. Ketika membeli tiket, yang perlu disebutkan adalah tujuan akhir kita, bukan tempat transit. Jadi kalau dari Rawa Buntu ke Depok, bilangnya ya turun Depok. Meski nanti harus berganti kereta/transit di Tanah Abang, itu bukan masalah. Soalnya kalau tidak begitu, nanti kita bakal kerepotan di stasiun transit. Harus keluar stasiun dulu, beli tiket lagi, lalu masuk lagi. 
  2. Siapkan uang lebih, karena harus membayar deposit kartu.
  3. Ketika hendak menempelkan kartu ke mesin, perhatikan benar mesinnya, di sebelah kiri atau kanan kita.
  4. Kalau mengalami salah tempel bilang ke petugas. Di beberapa stasiun aku melihat ada petugas punya alat yang bisa membuka palang jika ada kekeliruan.
  5. Jangan membawa barang yang terlalu besar. Koper besar dan kardus besar dilarang masuk.
  6. Jangan duduk di bangku yang dikhususkan untuk penumpang spesial (di pojokan dekat pintu), ataupun kalau duduk di situ harus suka rela segera berdiri jika ada yang lebih berhak menempati.
  7. Barang-barang ditaruh tempat barang di atas kepala kita, kalau tidak nanti bakal ditaruh atas oleh petugas.
Inilah contohnya, terkapar karena tertolak naik commuter line gara2 kardusnya

Comments

  1. Kangen KRL, beli aja kartu indomaret Mbak,jd ga perlu antri bl THB. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oo bisa tho mbak pakai kartu indomaret..baru tahu.

      Delete
  2. Jaman dulu sering naik KRL senen - bekasi tiap pulang kampung. Udah lamaaaa banget belum pernah naik lagiii. Kalau lg sepi berasa seru sih, tp kalau rame dan mpot mpotan.. Nyiksa juga. Ahahahhaah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, seru lho naik KRL tu ternyata

      Delete
  3. Wkwkwk, untung perut kenyang jadi nggak ngajak perang.
    Bepergian ke tempat yang gak familiar emang harus hati-hati. Kebayang repotnya Mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Repot repot asyik gitu deh mbak Ety ;)

      Delete
  4. Asli baca ceritanya deg2an tapi seru dan jadi pengen naik KRL juga kapan2 kalo mudik ke Depok. Soalnya anak-anak pengen banget nyobain ��

    ReplyDelete
  5. Sepakat, Mbak. Kalau membayangkan betapa penuhnya penumpang di gerbong, memang pantas kalau barang bawaan yang banyak, dilarang petugas. Bisa-bisa gerbongnya penuh oleh barang bawaan penumpang ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, kalau jam berangkat n plg kantor itu, ngangkut orang aja sampe empet2an

      Delete
  6. banyaaak banget suka dukanya ya mba...tapi memang begitu sih kalau naik kendaraan umum..seruuu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, kayak petualangan gitu deh jadinya

      Delete
  7. Mendebsrkan ya mb klo blum tau turunnya dimsna, soalnya dia mandeg per statiunnya dalam itungan detik haha
    Aku nlom pernah turun ke depok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mantengin rute terus. Ndelalah pas pulang hp mati, sama sekali nggak liat rute, asal aja naik,,eh jurusan jakarta kota wkwk

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi Brantas

Ken Belajar Hiking di Air Terjun Srambang

Mengunjungi Keraton Solo : Ken Ribet Sendiri