Saturday, April 16, 2016

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi Brantas

          "Naik kereta api tut...tut...tut...siapa hendak turut?" Suara Ken membahana di dalam kereta. Beberapa orang menengok mengamati polah tingkahnya. Yaaayyy, akhirnya kesampaian juga ya naik kereta. Iya ini pengalaman pertama Ken naik kereta api. Ceritanya dulu waktu aku dan Ken sakit hampir berbarengan, suami berujar "Ntar kalau dah sembuh, kita jalan-jalan naik kereta ke tempat Mas Glagah di Jakarta", nah kebetulan ini bulikku yang di Jakarta mantu, jadi ya sekalianlah, mumpung ada momennya.
            Sebenarnya agak surprised juga Ken mau naik ke dalam kereta tanpa cranky. Biasanya dia suka kereta kalau dari jauh saja. 3 bulan yang lalu kuajak liat kereta di bawah palang pintu malah nangis-nangis, minta menjauh. Semakin bertambah umur kayaknya dia memang lebih berani. Balik lagi ke kereta, kali ini kami memilih naik kereta yang paling sesuai dengan dompet kami, apalagi kalau bukan kereta ekonomi hahaha.

        Aku janjian berangkat bareng sama rombongan kakak yang di Ngawi. Biar kursinya dapat satu blok, maka diputuskan yang pesen tiket satu orang saja, yang dari Ngawi. Nanti aku tinggal naik dari Solo. Kami mau dapat kursi satu blok karena kereta ekonomi Brantas memiliki kursi yang berhadap-hadapan. Jadi pengin hadap-hadapannya sama keluarga sendiri, kan enak. Tapi maju mundur juga akhirnya, karena kalau yang beli dari Ngawi dan tiket dipegang mereka, aku bakalan ga bisa masuk stasiun karena ngga pegang tiket. Akhirnya dapat ide ini. Tiket dibeli kakak dari Ngawi, lalu ia mengirimkan tiket via pos ke Solo. Problem solved. Kami memesan tiket tiga minggu sebelum hari keberangkatan, jadi masih banyak pilihan kursi dan ada waktu buat ngirim-ngirim via pos.
Stasiun Jebres
Sumber: https://www.kereta-api.co.id/

          Hari keberangkatan pun tiba, kami sudah siap berangkat ke stasiun ketika kakak sms bahwa kereta sudah jalan dari stasiun di Ngawi. Di Solo, kereta Brantas berhenti di Stasiun Jebres, dan berangkat sekitar jam 16.53. Kami sampai Stasiun sekitar jam 16. 35, karena merasa masih lama suami memutuskan untuk membeli minum dulu. Eh, sekitar 5 menit kemudian terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa kereta sudah hampir sampai dan penumpang suruh siap-siap. Aku mulai gelisah karena suami belum nongol, mana belum check in pula... Aku tengak- tengok belum datang juga. Aku memutuskan untuk mengangkut barang-barang ke dekat petugas check in dan melakukan check in buat aku sendiri, agar lebih hemat waktu. Akhirnya suami datang dan langsung check in, huuffft, deg-deg an aku. Lalu kami langsung menuju jalur karena kereta sudah hampir masuk stasiun.
        Begitu kereta datang, eh si kakak ternyata udah dadagh..dadagh...di pintu kereta 3. Dia turun bantuin ngangkat tasnya Ken ke kursi kami. Jadinya, kami berenam duduk di kursi 3-3. Dan ternyata kereta berhentinya cukup lama, wah tiwas tadi deg-degan ngga karuan hahaha. Kereta berhenti sekitar 15 menit, lalu akhirnya berjalan juga. Ken seneng bangetttt. Namun kegembiraan itu terganggu, karena tiba-tiba ada kucuran air dari atas. Wah, ternyata air dari AC. Tidak menetes terus-menerus sih, cuma pas kereta hendak jalan dari posisi berhenti. Tapi ya lumayan juga repotnya, tiap mulai jalan dari suatu stasiun, kami siaga menadahi air yang bakal menetes. Sabar..sabar..
Pakai AC rumahan

      Ini kelima kalinya aku naik kereta api ekonomi sejak tahun 1999 ke Jakarta. Tahun 1999, kereta api ekonomi masih sangat sangat sangat semrawut. Jumlah penumpang seakan tak dibatasi, jadi bisa tuh beli tiket berdiri. Bayangkan saja, Solo-Jakarta berdiri, bakal ngalah-ngalahin Nyonya Meneer deh...wkwkwk. Alhasil, di lorong ada orang, di bordes ada orang, di tempat tangan pinggiran kursi ada orang duduk, di bawah kaki kita pun, di sela-sela kursi, ada orang tidur juga. Ditambah lagi, tiap berhenti di stasiun, pedagang asongan tak henti-hentinya mengalir di lorong-lorong, melompati orang tidur sambil menawarkan dagangannya. So crowded. Tahun-tahun berikutnya aku naik kereta keadaan masih sama. Tahun 2012 (harga tiket kereta Bengawan Solo - Jakarta seingatku adalah 47 ribu) mulai ada perubahan. Penumpang sudah dibatasi sesuai jumlah kursi. Akan tetapi, pedagang asongan masih bebas keluar masuk gerbong tiap kali kereta berhenti. Tahun 2016 ini (harga tiket kereta Brantas 86 ribu) sudah banyak sekali perbaikannya. 
  •  Beli tiket kereta sekarang tidak perlu lagi berjubel-jubel di loket stasiun. Beli tiket bisa lewat hp, kantor pos, agen2 perjalanan, minimarket, dsb. Tapi aku paling suka beli tiket kereta di minimarket inisial "idmt" yang ada mesin kayak ATM nya itu. Di situ enak, bisa melihat berbagai jadwal kereta lengkap dengan harga dan pilihan gerbong dan tempat duduk.
  • Setiap penumpang mendapat kursi, jadi jumlah penumpang sesuai dengan jumlah kursinya. Tidak ada lagi yang berdiri dan memenuhi lorong.
Kursi kereta ekonomi,
Abaikan sandal Ken.

  • Kereta dilengkapi dengan AC, meskipun AC nya berupa AC rumahan, tetapi satu gerbong ada 6 unit, jadi dingin juga.
  • Tidak ada lagi pedagang asongan yang berkeliaran ke dalam kereta, yang ada adalah pedagang resmi dari petugas kereta itu sendiri, yang menawarkan 3 barang, yaitu minum, snack, dan makan 
  • Dilengkapi dengan colokan listrik untuk men-charge gadget kita. 
Ada dua colokan tiap di bawah jendela,
eh ada cantolan juga, lumayan buat naruh plastik sampah
atau yang lainnya

  • Ada petugas kebersihan yang ngumpulin sampah di tengah-tengah perjalanan, jadi jangan buang sampah sembarangan. Kumpulin di wadah, nanti bakal ada petugas yang membuangnya.
  • Kamar mandi lebih baik, toilet dilengkapi flush dan kran semprotan.
  • Tiap hendak berhenti di suatu stasiun, diberi pengumuman oleh petugas.

         Terus terang saya salut banget sama KAI, dua jempol deh buat mereka. Karena apa? Karena bisa mewujudkan pelayanan yang lebih baik. Saya yakin tak mudah lho mewujudkan perubahan itu. Tau sendiri pasti dulu banyak pihak yang tak menyukai perubahan itu, seperti calo dan pedagang asongan. Karena kalau bukan orang yang tegas, bakalan dilematis menghadapi orang-orang yang memakai alasan "urusan perut". Bravo KAI. Meski tak seperti shinkasen, tapi kereta api kita kini sudah cukup memadai. 
     Meski memadai tapi jangan dibandingkan dengan kereta kelas bisnis atau eksekutif ya, jelas lebih enakan kelas eksekutif lah hahaha. Memadai di sini cocoklah antara harga dan fasilitas. Nggak mewah tetapi tetap manusiawi. Salah satu perbedaan antara ekonomi dan eksekutif adalah kursinya. Kursi kereta ekonomi saling berhadapan, ini mungkin karena untuk menghemat space, jadi memuat lebih banyak. Terus gitu sandarannya tinggi dan tegak lurus, so untuk perjalanan jauh cukup membuat pinggang pegel.

     

No comments:

Post a Comment

Ibu Rumah Tangga Penuh Semangat di Usia Cantik

Umur kami terpaut cukup jauh, yakni 11 tahun, tapi entah kenapa banyak orang-orang yang keliru mengenali kami. Terutama simbah-simbah d...

popular posts