Gotong-Royong dalam Pernikahanku

       Di berbagai kebudayaan, pernikahan merupakan salah satu upacara adat yang penting, sehingga kebanyakan diselenggarakan dengan aneka upacara yang meriah, banyak makanan dan mengundang banyak orang. Karena menjadi perhelatan yang cukup besar, maka tentu tak bisa hanya mengandalkan tenaga pihak keluarga saja untuk menangani berbagai keperluan acara. Di sinilah peranan gotong-royong diperlukan, yaitu bekerja sama membantu kegiatan upacara pernikahan, istilahnya di desaku. adalah rewangan (perbantuan). Di desa gotong royong ini masih eksis, karena biasanya penduduk satu desa saling kenal dengan baik jadi tak segan-segan untuk meminta tolong. Beda dengan di kota yang tak saling kenal, penduduk berasal dari berbagai wilayah, dan pekerjaan yang menyita waktu menyebabkan gotong-royong susah untuk dilakukan. Sehingga kini banyak menyerahkan urusan pernikahan kepada EO.

     Tahun2011 aku menikah, karena aku anak cewek terakhir maka pernikahanku dibuat cukup besar-besaran. Sebagaimana tradisi di tempatku, tidak semua anak pernikahannya dibuat besar-besaran (mengundang banyak orang dan pake amplopan). Rata-rata hanya satu kali/satu anak per keluarga. Terus yang dirayain gitu biasanya nikahnya anak perempuan, baru kalau tidak punya anak perempuan, pernikahan anak laki-lakinya diramein. Kakak-kakakku dan adikku nikahnya cuma akad nikah dan syukuran makan ngundang orang satu RT saja. Beda dengan aku, meski aku sebenarnya ga ingin dirayain, tapi kasihan ortu belum pernah mantu. Jadilah berbagai persiapan dimulai. Untunglah kakakku cukup cekatan menjadi koordinator berbagai hal. Waktu itu aku kerja di luar kota, jadilah aku terima jadi, ga ikut ngurus apa-apa...hihihihihihi


            Aku pulang H-2, cukup mepet sekali, karena cuma dapat cuti 3 hari. Akan tetapi saya kan calon ratu sehari, hahaha jadi ga masalah, toh aku ga ngerjain apa-apa. Sesampai di rumah, ternyata sudah ramai orang rewang dan sibuk sekali. Para lelaki masang-masang tenda dan angkut-angkut meja dan kursi, sedangkan para wanita sibuk di dapur. Dan enaknya, aku ga boleh bantuin apa-apa. Bahkan ga boleh masuk ke dapur, katanya nanti masakannya ga enak kalau ada campur tangan calon pengantinnya..hahaha ada-ada saja. Padahal aslinya aku malah ga enak sih, bingung mau ngapain, karena ga boleh ngapa-ngapain.
         Keberadaan orang rewang ini sudah ada sejak seminggu sebelumnya. Tapi ga tiap hari sebanyak itu. Biasanya kalau masih jauh hari hanya keluarga dan tetangga kiri kanan rumah saja yang dimintai bantuan, lalu waktu H-2, semua warga desa baru tumpleg bleg ... Semua berkumpul, muda dan tua, yang bayi pun juga dibawa. Di tangan-tangan mereka pada nenteng pisau, parutan, dan peralatan masak lainnya. Di desa hampir semua makanan dimasak sendiri, jadi memang ya butuh tenaga banyak. Jauh-jauh hari sudah ada yang rewang  goreng bawang, goreng kerupuk, goreng kopi, napeni beras, bikin kembang goyang, dsb. Sementara itu daging untuk sajian acara bapakku pilih menyembelih sendiri, jadi memang butuh banyak orang kan itu ngiris-ngiris sapi utuh. Daging sapi ini dimasak berbagai resep, ada yang dimasak kayak rendang gitu, buat isi risoles, buat bakso, dll.
          H-1 rumah tambah riuh lagi, warga se-RT ditambah saudara-saudara pada kumpul semua. Dari pagi sudah sibuk luar biasa, karena memang biasanya H-1 gitu sudah banyak tamu yang datang. Di tempatku orang-orang kalau kondangan emang ga sabar ngikuti acara resepsi yang bisa memakan waktu 2-2,5 jam, jadi banyak juga yang pilih datang sebelum hari H. Sehingga H-1 harus sudah menyiapkan sajian. H-1 inilah puncaknya rewangan , dalam artian lagi banyak-banyaknya kerjaan. Jadi tak heran semua orang terlihat sibuk, kecuali aku hihi. Sebagai gambaran, dari sajian yang ada mungkin yang beli jadi cuma beberapa item. Padahal kan sajian makanannya lumayan banyak. Untuk resepsi aja ada snack box yang isinya beberapa makanan, lalu ada sop yang isinya macem-macem, makanan utama yang campur-campur juga, lalu es buah yang isinya juga aneka rupa. Kemudian makanan untuk dibawa tamu pulang. Coba untuk tamu ini berupa Souvenir Photobooth tentu akan mengurangi kerempongan para rewangets. Belum lagi sajian prasmanan yang paling ngga ada sekitar empat menu untuk tamu yang datang di luar resepsi. Lalu makanan-makanan tradisional semacam jadah, jenang, tape dll untuk sediaan di meja tetamu dan juga untuk orang-orang rewang sendiri, dan tak ketinggalan makanan untuk munjung atau memberi para tetangga dan saudara yang mencapai 200 paketan makanan....BAYANGKAN kalau tak ada orang rewang...bonyok lah ini calon pengantin .. Penuh abu dapur pasti ... Jadilah upik abu huhuhu. Thanks untuk para rewangers!!

Tulisan ini disertakan dalam Giveaway Pernikahan dan Souvenir


Comments

  1. Sama Mbak, di kampung sy rewang masih terjaga. Guyub rukun terasa saat rewang gini. Pas nikahan kakak cowok sy, meski cm resepsi sederhana juga yg rewang banyak. Entah pas sy nikah nanti hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantenane mbak Voy pasti besar2an, kan cewek, hehehe.. Yang rewang pasti tumpah ruah,

      Delete
  2. Wow, cutinya cuma 2 hari, mbak? Ga bisa honeymoon dong :D Senangnya ya punya tetangga yang masih guyub

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cutinya 3 hari mbak, iya, honeymoon cm 2 hari pas weekend berikutnya haha

      Delete
  3. Klo seorang jomblo seperti saya baca hal2 berbau nikah2 kok rasanya gimana gitu...hehehe
    Nice post Mbak :)

    Tapi kok lama gak diupdate...
    wait ur blogpsot. Salam kenal :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe..,ga usah gimana gitu, nanti jg ngrasain...makasih ya udah mampir, iya, seret bgt mau rutin update, semoga ke depan bs lbh rutin.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi Brantas

Ibu Rumah Tangga Penuh Semangat di Usia Cantik

Ken Belajar Hiking di Air Terjun Srambang