Evolusi Penamaan Anak dalam Masyarakat Jawa di Kampungku

        Salah satu blogger bikin giveaway tentang nama yang berkesan. Nah aku jadi ingat punya draft tentang evolusi penamaan anak khususnya dalam masyarakat Jawa di kampungku. Hihihi sok-sok an bikin penelitian, well, meskipun sampelnya acak adut, tapi setidaknya bisa memberi sedikit gambaran tentang perkembangan nama dalam masyarakat Jawa. Nanti kalau jaman antah berantah tulisan ini masih ada, bisa buat pengingat ooo nama orang dulu kayak begini-begini thoh. Tulisan ini dulu terinspirasi ketika aku menyadari bahwa nama anak-anak kecil di kampungku kebanyakan sudah berbau "luar"

        Semakin majunya teknologi informasi tak bisa dipungkiri menjadi sarana memperluas wawasan dan makin mengglobalnya berbagai hal, termasuk dalam penamaan anak. Jaman dulu orang Jawa biasa (dalam artian bukan keluarga orang ningrat atau priyayi) kebanyakan menamakan anaknya dengan mudah saja, apa yang terlintas di pikiran, tanpa njlimet memikirkan arti, bahkan tak terpikir untuk menjadikannya nama yang the one and only. Sebagai contohnya, lahir hari Sabtu lalu dinamai saja Setu, lahir hari Senin dinamai Senen, lalu ada juga Rebo, juga ada Kemis. Kemudian ada juga yang serta merta dinamai dengan sesuatu di sekitar mereka, Cikrak, Gudhel, Bibit, Timpal, dll. Mereka yang punya nama seperti ini kebanyakan lahir tahun antah berantah dan sekarang sudah meninggal, namun waktu aku masih kecil sempat menemui ada beberapa yang masih hidup, tapi sudah simbah-simbah tua. Sebenarnya sekarang tren nya juga balik lagi ke jaman dulu, memakai nama dari kata benda atau kata sifat di sekitar kita. Akan tetapi sekarang memakai kata yang mengandung makna positif atau keindahan atau unik, contoh Embun, Bening, Jaler, dll.


       Sekarang kita tengok orang-orang di kampungku. Pakde, Mbah, dan tetangga yang kelahiran sekitar tahun 1920 -1950-an namanya mempunyai ciri-ciri ; singkat (terdiri dari dua atau tiga suku kata), mudah pelafalannya, dan kalau laki-laki kebanyakan namanya berakhiran dengan huruf "O", seperti Karso, Sastro, Noyo, Darmo, Asmo, Karto, Joyo, Sutoyo, Suparno, Sumarto, dll. Sementara yang wanita kebanyakan namanya berakhiran huruf "i" dan "em", seperti Sumi, Sarinem, Sukiyem, Sumini, Jami, Ikem, Lami, Warni, Pani, Saikem, Giyem, Minem, dll.
    Kemudian beranjak ke tahun 1950-1970an, sudah mulai terlihat ada pergeseran. Nama anak laki-laki sudah tidak melulu berakiran huruf "O", (meski masih banyak juga yang berakhiran huruf "O"), seperti Suparlan, Jumari, Amat Bandi, Sukirin, sementara yang anak perempuan juga mulai beranjak dari akhiran "-em”, contoh Purwati, Samsiah, Astutik, Sulistyani. Sejak tahun 1970an hingga 1990an, nama makin memanjang. Mungkin karena penggunaan radio sudah meluas jadi punya wawasan dari dunia luar, selain itu juga karena sudah banyak yang merantau ke kota jadi menambah perbendaharaan kata. Nama kini jadi dua kata, contoh Siti Lestari, Ririn Maryani, Lilik Lestari, Atik Astiwi, Putut Marjoko, Nur Wahyudin, dll, meski mulai panjang namun kata-katanya masih khas kata Jawa.
      Tahun 1990an, nama bertambah kekinian dan panjangnya sudah mulai tiga kata seperti Jupita Widya Untari,  dan kesadaran masyarakat untuk mengaji rupanya meningkat hehe, ini bisa ditilik dari nama-nama yang mulai banyak menyerap dari bahasa Arab, contoh Mukhlasin, Naufal, Ridwan, dsb. Mulai milenium baru, tahun 2000an, keberadaan televisi makin meluas dan menyumbangkan ide untuk memberi nama anak yang makin mengglobal. Kini nama khas Jawa sudah menipis, meski belum punah, tapi penamaan mulai bergeser ke nama-nama dari luar negeri, seperti Marcello, Marsa, Tiffani, Tasya, Rico, Galant, Vino, dan nama-nama itu aslinya panjang-panjang, namun dirikuuh tak bisa menghafalnya, cuma tau nama depan nya saja. Rata-rata sekarang kalau ngga mengambil nama dari Barat ya dari Timur Tengah.
       Lalu bagaimana dengan nasib nama anakku? Hehehe. Tahun 2013 waktu anakku lahir, aku keukeuh nyari nama anak bahasa Jawa, tapi si ayang suami sudah punya dua kata dan harus disetujui. Harus pakai kata Abdullah dan pakai nama belakang suami. Wah, padahal aku ga ingin panjang-panjang, soalnya kalau ujian ribut dah itu ngisi kolom nama, dan lagi kalau panjang sebagian nama juga ga kepakai. Maksudnya kita manggil paling memakai satu kata dari nama, kebanyakan malah manggilnya lain, contohnya ya diriku sendiri, Ratna malah dipanggilnya Nana..tuh kannn. Jadilah nama belakangku seperti antara ada dan tiada. Jadi apalah gunanya nama panjang-panjang #pikirku. Akhirnya kucoret lah semua nama-nama yang telah kusortir, dan aku mantap milih nama "Ken", pendek, Jawa kuno lagi hahaha.
Sekian.

Note:
Nama-nama di atas diambil dari suatu wilayah di pelosok, dengan penduduk 99% bekerja sebagai petani.



Comments

  1. Iya jg ya mb, pnsmaan orang jmn fulu lebih tingkss, nyatanya byk yg jadi sukses juga hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi soalnya pada tekun, jadinya sukses,, makasih ya dah mampir

      Delete
  2. nama anak-anak sekarang memang panjang-panjang yah mbak bahkan terkadang sulit di eja :)

    salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, rata2 sekarang 3 kata dan ejaannya susah, salam kenal juga ya ;)

      Delete
  3. katanya identitas budaya keliatan dari namanya. nama di sini kebanyakan udah arabic banget yak heuheuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nama jadi cerminan identitas jg. Kalau pakai Arab itu mgkn agar mudah dikenali identitasnya sbg orang islam :). Makasih dah mampir

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi Brantas

Ken Belajar Hiking di Air Terjun Srambang

Mengunjungi Keraton Solo : Ken Ribet Sendiri