Menyapih karena Minyak Angin

       Ini adalah cerita kelulusan my little boy dari nge-ASI. Sejak dulu aku memang merencanakan hendak menyapih Ken ketika umur 2 tahun. Jadi sejak umur 18 bulan aku sudah sounding terus bahwa nanti ia bakalan mimik pake gelas, ngga mimik bunda lagi. Dan responnya adalah, dia selalu menggeleng dan bilang "emoh". Hingga tepat umur 24 bulan, aku masih belum tahu mau memulai darimana. Si bocahnya masih minta terus, aku nya juga enjoy aja ngasihnya. Jadi ya masih jalan terus. Hingga akhirnya  ....
       Berawal dari suatu petang tanggal 31 Mei kemarin ketika aku merasa tak enak badan, perut berasa begah dan kepala terasa berat. Untuk membuat tubuh lebih nyaman, aku oleskan minyak angin ke leher dan perut. Habis Isya,  Ken mengajak bobok, seperti biasa dia kalau mau bobok pasti minta nenen. Nah, waktu mau nenen dia bilang matanya kepedesan (oh rupanya kena uap minyak angin) dan minta nenennya ditutup.  Langsung terbersit dalam pikiranku, Ohooo, kesempatan buat menyapih nih!!! Ini umurnya kebetulan sudah 2 tahun 1 bulan.

     Begitu dia minta nenennya ditutup, aku segera memintanya miring dan kupijat punggung dan kakinya. Akan tetapi dia tidak segera tidur, lalu kuceritain cerita favoritnya "burung blekok dan pemburu", setelah bolak balik ganti posisi akhirnya tertidur juga. Jam 11 dia terbangun, dan seperti biasa hal pertama yang dicari adalah nenen. Tapi aku sudah bertekad untuk menyapihnya, jadi kuolesi lagi perutku pake minyak angin freshcare, jadi ini yang kuolesi perut ya, bukan nenen. Begitu agak mendekat ke aku dia sudah merasa sriwing-sriwing matanya, dan minta bajuku ditutup. Lalu kutawari untuk minum air putih, tapi ga mau. Mulai deh menangis, Segera saja kugendong agar cepat tidur kembali. Akan tetapi ternyata malah melek lek lek. Ya sudahlaaaahh ... Akhirnya main-main, becanda, dan nonton youtube. Dia sempet minta minum yakult juga. Cukup lama dia melek, pukul satu baru ngantuk lagi. Kugendong langsung tidur, dan pelan-pelan kutidurkan.
Setengah satu malem minta yakult

       Ternyata apa yang dibilang ibu-ibu yang lain itu ada benarnya, bahwa akan ada rasa patah hati ketika menyapih. Ketika aku hendak menyusul tidur, tiba-tiba aku merasa nelangsa. Aku seperti merasa kehilangan. Biasanya dia sering bergelayut manja dan bilang "mik nda nana", dan itu tak kan terjadi lagi. Ga bakal ada lagi sesi kelon-kelon. Tak terasa air mataku nongol juga. Huuft ..aku sudah memutuskan, jadi aku harus kuat. Ini memang satu tahapan yang harus dilalui entah cepat atau lambat. OK, aku harus BISA! Jam 4 dia kebangun lagi dan minta nenen, segera kuolesi lagi perutku. Dan sama, begitu mendekat dia merasa sriwing-sriwing dan nyuruh nutup bajuku. Segera kugendong biar cepat tidur lagi, dan benar juga, dia segera tidur dan bangun jam setengah 7.
      Siangnya tak ada masalah yang berarti, ini karena memang akhir-akhir ini dia sudah berkurang frekuensi nenen kalau siang. Terlebih aku juga sudah menyiapkan aneka minuman yang ia sukai, dan menyibukkannya dengan bermain outdoor. Malam kedua ia tidur digendong bapaknya. Jam setengah 2 kebangun, nangis, tapi ga bilang minta nenen. Dipijit ga mau, ditawari minuman ga mau, digendong ga mau. Kubiarkan saja dia sejenak menangis, lalu aku coba gendong lagi. Kugendong bukannya tidur, malah minta lihat mobil-mobilan di youtube. Akhirnya begadang lagi sampai setengah 4 demi menonton truk derek yang ngangkut-ngangkut mobil gembos.
     Malam-malam berikutnya ketika kebangun malam udah ga nangis lagi, tapi kadang masih susah untuk kembali tidur dengan cepat. Kadang kugendong langsung tidur lagi. Kadang malah melek minta minum air putih, kadang minta yakult,  kadang minta susu di botol, atau nonton youtube sampai terkantuk-kantuk lagi. Beberapa kali masih terucap permintaannya untuk nenen. Akan tetapi dia bilangnya dengan santai, ga nangis atau maksa dan  langsung lupa ketika aku mengalihkan perhatiannya.
     Sekarang, dia sudah sering tidur sendiri. Gulang guling di tempat tidur, tau-tau udah merem. Hal yang sangat sangat jarang sekali terjadi ketika dia masih nenen. Aku bersyukur ternyata proses menyapih ini tak sesusah yang aku bayangkan. Ini mungkin memang bukan WWL ya, karena aku sepihak menghentikannya di satu titik. Sehat-sehat ya le, tambah pinter! Amin.

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika menyapih berdasarkan pengalamanku:
* Sibukkan anak dengan kegiatan dan permainan
* Jangan gulang guling di tempat tidur berdua dengan anak
* Pastikan anak selalu dalam kondisi ceria, tidak lapar dan bosan
       

Comments

  1. Kendalanya sama mbak, susah tidur lagi setelah kebangun. Tapi sekarang sudah 5 bulan, kalau bangun malam minta susu terus langsung tidur lagi. :)

    Selamat ya Ken, semoga jadi anak yang mandiri dan sholeh.... Amin....

    ReplyDelete
  2. Amiin, makasih tante. Ini blm sebulan, masih sering susah untuk lgsg bobok lagi

    ReplyDelete
  3. Wah mksh sharenya mak.ini sangat bermanfaat buat saya kelak pny anak

    ReplyDelete
  4. Sama2 mak, moga2 cpt menikah n punya anak ya ;)

    ReplyDelete
  5. Semoga Ken makin madiri ya Mak ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, aku berharapnya emang biar bljr mandiri trs makannya jg banyak

      Delete
  6. Aakk,.nama anak kita sm mbak..ken..
    Iya aku jg gt, kdang suk kgn masa2 si kecil bergelayut manja saat mau tdur minta asi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi .,iya, hidup keeenn! Tapi senengnya ternyata tetep dkt sama aku mak

      Delete
  7. selamat ya udah berhasil menyapih buah hatinya...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi Brantas

Ibu Rumah Tangga Penuh Semangat di Usia Cantik

Ken Belajar Hiking di Air Terjun Srambang