Friday, June 26, 2015

Ubii Main Petak Umpet

       Hai kakak Ubii, kenalin namaku Ken. Bundaku selalu ngikutin ceritamu lho di blognya Mami Gesi, jadi kadang aku diliatin fotonya kakak Ubii sama bunda. Nah untuk ulang tahun kakak Ubii yang ke-3 ini, bundaku bikin gambar untuk kakak, aku pengin gambar juga sih, tapi jadinya malah garis-garis ruwet. Selain sebagai hadiah ulang tahun, gambar ini juga hadiah buat kakak yang berhasil melewati operasi implan koklea.

Ubii Main Petak Umpet

      Ini ceritanya kakak Ubii nanti udah pinter jalan dan adik udah lahir, terus dah bisa main berdua. Wah pasti seru deh nanti bakal ada temannya bermain! Tapi mainnya lucu, kakak Ubii nutup matanya ga rapet, terus adik juga, sembunyi tapi bilang-bilang. Ya ga pa pa ya, kan masih kecil.... Yang penting kakak ubii dan adik enjoy, bermain bersama, belajar bersama dan  fun bersama-sama. Selamat ulang tahun ya kakak Ubii, sehat selalu, dan semoga selalu diberi keberkahan sama Tuhan.




Saturday, June 20, 2015

Menyapih karena Minyak Angin

       Ini adalah cerita kelulusan my little boy dari nge-ASI. Sejak dulu aku memang merencanakan hendak menyapih Ken ketika umur 2 tahun. Jadi sejak umur 18 bulan aku sudah sounding terus bahwa nanti ia bakalan mimik pake gelas, ngga mimik bunda lagi. Dan responnya adalah, dia selalu menggeleng dan bilang "emoh". Hingga tepat umur 24 bulan, aku masih belum tahu mau memulai darimana. Si bocahnya masih minta terus, aku nya juga enjoy aja ngasihnya. Jadi ya masih jalan terus. Hingga akhirnya  ....
       Berawal dari suatu petang tanggal 31 Mei kemarin ketika aku merasa tak enak badan, perut berasa begah dan kepala terasa berat. Untuk membuat tubuh lebih nyaman, aku oleskan minyak angin ke leher dan perut. Habis Isya,  Ken mengajak bobok, seperti biasa dia kalau mau bobok pasti minta nenen. Nah, waktu mau nenen dia bilang matanya kepedesan (oh rupanya kena uap minyak angin) dan minta nenennya ditutup.  Langsung terbersit dalam pikiranku, Ohooo, kesempatan buat menyapih nih!!! Ini umurnya kebetulan sudah 2 tahun 1 bulan.

Sunday, June 14, 2015

Ramadhan dan Bedug Masjid

        Ramadhan sebentar lagi datang. Pengalaman ramadhan di waktu kecil rasanya tak pernah hilang dari ingatanku. Kami selalu menyambut ramadhan dengan suka cita. Aku menikmati masa kanak-kanak pada tahun 90-an di sebuah kampung kecil jauh dari hingar bingar kota. Nah berhubung waktu itu belum ada listrik, jadi keberadaan bedug sangatlah diperlukan, agar seantero dusun bisa tahu jika tiba waktu sholat. Apalagi saat ramadhan, suara bedug Magrib yang bertalu-talu sangat dinantikan. Berkaitan dengan bedug ini aku punya 2 pengalaman yang selalu bikin aku senyum. Yang pertama ketika kelas 1 SD, aku belum terlalu kuat puasa. Aku ingin sekali puasaku sampai bedug berbunyi, tapi perutku rasanya sudah tak kuat lagi. Akupun merajuk pada ibu untuk membunyikan bedug, agar aku bisa segera berbuka. Akan tetapi tentu saja ibu gak mau, kan bukan wewenang ibu, apalagi emang belum waktunya tiba. Aku pun akhirnya menangis hihi.
       Terbatasnya hiburan karena belum ada listrik membuat aku lebih banyak bermain dengan teman-teman. Masjid kecil kampung menjadi salah satu hiburan kami. Kenapa? Karena di masjid lah kita bisa bertemu dengan banyak teman, mengaji lalu diakhiri dengan bermain. Kalau di rumah aja kan cuma bengong gelap-gelapan. Jadi meskipun mengaji hanya diterangi lampu ublik, kami tak pernah mengeluh atau gimana gitu. Biasa aja. Tetep ceria. Apalagi saat ramadhan, masjid menjadi rumah kedua kami. Shalat lima waktu di masjid, shalat tarawih juga di masjid yang kemudian dilanjutkan dengan tadarus sampai jam 11-12an. Suatu siang habis dhuhur, aku dan temanku tidak langsung pulang. Kami bermain-main dulu di masjid bahkan merencanakan tidur siang di masjid. Entah siapa yang memulai tiba-tiba kami bernyanyi sambil memukul-mukul bedug. Semangat sekali sampai-sampai kami memukul dengan keras dan tiba-tiba datang seorang tetangga yang rumahnya dekat masjid sambil marah-marah. Karena kaget kita pun langsung terdiam. Aku malu banget jadinya hehehehe





      

Tuesday, June 2, 2015

Menggoreng Kopi secara Tradisional

Menggoreng kopi sendiri sudah menjadi tradisi di kampungku, meski sekarang sudah banyak terdapat kopi instan di warung-warung, tetapi pamor kopi buatan sendiri masih tetap tinggi. Untuk acara-acara besar pastilah tak ketinggalan menyiapkan bubuk kopi ini. Suamiku pertama kali lihat kami memproses sendiri bubuk kopi merasa agak keheranan juga, karena di tempatnya tidak ada yang membuat bubuk kopi sendiri. Bagi kami yang hidup di desa memang terbiasa mengolah bahan makan sendiri, ini tak lepas dari sejarah masa lalu, yang mana di desa tak ada penjual ini itu. Jadi kalau mau sesuatu ya harus bikin sendiri.

Ibu Rumah Tangga Penuh Semangat di Usia Cantik

Umur kami terpaut cukup jauh, yakni 11 tahun, tapi entah kenapa banyak orang-orang yang keliru mengenali kami. Terutama simbah-simbah d...

popular posts