Go Green dan Irit Beda Tipis

         

     
Sekarang kan gerakan go green lagi booming tuh, nah demi meringankan beban bumi dari kerusakan, tak ada salahnya kalau kita-kita ikutan juga kan? Bagaimana caranya? Yaitu dengan cara mengontrol perilaku kita sehari-hari. Selain sebagai bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan, imbasnya juga membuat kita bisa menghemat pengeluaran,....apalagi yang emak-emak pasti suka kan kan kan? Tapi mungkin bagi orang yang sibuk, hal-hal berikut dianggap kurang efisien, karena memang memerlukan tenaga lebih dan kesabaran. Jadi ini semata-mata pengalamanku, ibu rumah tangga, yang tinggal di desa, bukan bagian dari #momwar, okeh ...
     Berikut ini adalah kebiasaanku yang kuniatkan untuk go green atau juga sengaja untuk ngirit. Dan setelah kupikir-pikir ternyata aksi go green dan irit itu bedanya setipis rambut dibelah tujuh, alias hampir sama. Jadi kalau lagi malu mengakui sedang ngirit, maka alasan yang bisa dikemukakan adalah sedang melakukan aksi go green...hahahaha. So, apa sajakah itu?

  • Bayi pakai popok kain. Ketika Ken masih bayi, pospak hanya kupakaikan ketika bepergian, itupun bepergiannya belum tentu seminggu sekali. Di rumah pakai popok atau celana kain biasa. Resikonya ya ngompol di berbagai sudut rumah. Kebetulan rumahku tidak pakai gelaran karpet, jadi ya gampang saja. Bekas ompol di lap pel basah. Udah, gitu aja. Sekarang mari kita tilik dari segi irit dan go green nya. Iritkah? Tentu saja. Jika saja pospak isi 9 harganya 16 ribu, maka dalam sebulan budget pospak adalah sekitar 112 rb, itu dengan asumsi sehari pakai 2 pospak. Nah, kalau pakai celana kain, dengan 16 ribu saja kita sudah bisa beli attack untuk mencuci sebulan, ga cuma baju dan celana anak, tapi ya gombal-gombal e bapak dan emaknya juga. Kemudian kalau ditilik dari segi go green, jika sehari pakai 2 pospak maka dalam sebulan bakal ada 60 sampah pospak. Itu baru satu anak, bayangkan kalau satu RT pakai pospak semua, terus satu RW, terus satu kelurahan, terus terus terus.... Gunung pospak pasti tak terelakkan lagi kan? Lalu pertanyaannya, tugas siapakah mengurai sampah pospak itu? 
  • Bayi minum ASI. Sejak lahir sampai sekarang, Ken memang minum ASI dan kurang suka dengan susu formula. Bukan maksudku nge-judge ibu-ibu yang memberi susu formula lho ya, aku melakukan ini karena memang aku di rumah, jadi tidak ada halangan bagiku untuk memberi ASI. Bayi haus tinggal sorongin tuh ASI, beres. Irit? Pasti. Dengan asumsi susu formula harga 90 ribu untuk 5 hari, maka sebulan kita bisa mengamankan sekitar 540 ribu. Dengan memberi ASI, otomatis tidak nyampah kaleng, kardus atau alumunium foil kemasan susu.
  • Hemat listrik dan air, seperti yang dihimbau oleh PLN dan PDAM, sebagai makhluk yang irit, aku perlu mengaplikasikan juga himbauan ini. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah ini berkaitan dengan ketersediaan sumber daya alam. Jadi ketika kita mau boros listrik mikirnya harus jauh ke depan, bukan karena 'oh saya bisa bayar ini', tapi tentang sumber daya alam minyak bumi dan batu bara yang semakin hari semakin menipis. #sokpinter. Dan imbas secara langsungnya adalah tagihan listrik dan air bakal lebih menipis. Terus kalau bocah inilagi cinta lingkungan atau main air yaaaaa?


  • Memilah sampah. Aku paling hobi nih memilah sampah. Bagaimana caranya? Sampah sisa makanan lempar ke kandang ayam atau kolam ikan. Kantong plastik bersih disendiriin, bisa buat wadah apa gitu di kemudian hari. Plastik kotor atau yang ga bisa dipakai lagi dan benda lain yang bisa terbakar dikumpulin untuk menyulut api di dapur. Sampah besi, kaleng, botol plastik dan kardus dikumpulin buat dijual. Bagi yang tinggal di kota dan sampahnya dibuang ke TPA, memilah sampah juga bagus lho, karena akan memudahkan pemulung ngambilin sampah yang bisa di-recycle..#berdasarkan-imaginasi-sendiri. Lha aku prihatin lihat gelundungan sampah dalam kantong-kantong plastik, berbau menyengat di tempat pembuangan sampah sementara di pinggir jalan. Kebayang kan kalau semua sampah dicampur, sisa nasi, campur plastik-plastik, campur sisa opor, dsb. Campur aduk, dengan bau yang tidak sedap. Yah .. Karena kita yang menghasilkan sampah, maka sebaiknya kita sendiri juga ikut memikirkan sampah yang kita hasilkan. 
  • Reduce, atau meminimalkan konsumsi suatu barang. Aku suka ngeri sendiri lihat tumpukan barang tidak terpakai di rumah. Maka dari itu aku meminimalisir berbagai hal, seperti: Ketika beli sesuatu, kemudian barang itu bisa kutenteng atau dimasukin tas, maka aku tidak mau diberi kantong plastik; jarang beli baju, karena aku merasa bajuku sudah cukup, dan banyak baju yang ternyata jarang kupakai, jadi ketimbang beli menuh-_menuhin lemari, ya mending cuci kering pakai, (padahal seringe pengin baju yang keliatannya bagus, tapi uang e ga ada hahaha). Dengan me-reduce, selain bisa menghemat pengeluaran juga menghemat sumber daya yang dipakai untuk memproduksi suatu barang.
  • Memasak pakai kayu. Berhubung di rumah ada bertumpuk-tumpuk kayu bakar jadi ya sayang kalau dianggurin, sekalian juga untuk menghemat gas elpiji yang harganya terus melambung. Jadinya bener bener hemat, tabung ukuran 12 kg dulu bisa bertahan sampai 6 bulan, karena pemakaiannya terbatas untuk hal-hal kecil seperti goreng telur, atau manasin sayur.
Humm sudah hampir subuh, sementara baru ini yang kuingat, nanti kalau ada hal-hal lain yang kuingat insyaallah bakal kutambahkan. Salam irit yang berkedok go green.. ;)

Comments

  1. Ini namanya sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui ya Mak. Go green dapet, irit juga dapet. Nice idea ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya mak, dengan go green, imbasnya irit. Makasih dah mampir, salam kenal.

      Delete
  2. memilah sampah, sudah aku lakukan malah banyak sampah yang aku jadikan barang lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mak tira malah selangkah lebih maju, bs dibilang ga nyampah tuh

      Delete
  3. saya juga harus bisa go green nih, biar bumi dan isi dompet awet :)

    ReplyDelete
  4. OMG, saluut mak :).. Bisa konsisten seperti itu.. Aku jujurnya blm bisa sampe segitunya... ga konsisten lah intinya... di kantorku sndiri , krn ini perusahaan asing, bos-bos ku yg kebanyakan bule, itu giat bgt mencanangkan green...

    mulai dari pakai kertas yg certified go green, tp hrgnya jd super duper mahal -__- Cuma kata si bos, pusat kntor kita di London udh seperti ini...jd mau ga mau, kantor cabang di manapun hrs ikut.. trs, gerakan 'Print if you need'.. Jadi sebisa mungkin doc ptg disimpen di folder khusus...jgn sedikit2 diprint..

    trs bank tmpat aku kerja jg mulai paper free...drdulu kita ga pake buku tabungan krn semua nasabah diwajibkan punya net banking... dr situ nasabah bisa liat pergerakan tabungannya.. Gitu2 deh mba brp caranya :)

    ReplyDelete
  5. begitu ya mak bentuk go green di kantor, berarti kita bisa menerapkan dengan berbagai cara sesuai dengan lingkungan kita ya. Kalau aku tinggal di desa mak, sampah harus dikelola sendiri2, ga ada tukang sampah, Ga ada TPA, jd hrs bs mandiri

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi Brantas

Ibu Rumah Tangga Penuh Semangat di Usia Cantik

Ken Belajar Hiking di Air Terjun Srambang