Sunday, April 19, 2015

Membuat Aplikasi pada Kaos Anak

Kapan hari itu aku diberi kaos anak 3 biji, dengan ukuran dan warna yang sama. Kaos sisa produksi dari usaha konveksi, ya mayan lah bisa untuk ganti-ganti. Soalnya dalam sehari Ken itu bisa ganti baju berkali-kali. Tapi karena 3 baju itu sama maka aku mikir 'wah ntar dikira anakku ga pernah ganti nih, kok bajunya sama terus hoho'. Langsung aku kepikiran untuk memberi aplikasi gambar-gambar, selain biar beda antara baju satu dan satunya juga agar baju lebih rame.
   Cara dan bahannya sangat sederhana, dengan memakai kain-kain yang ngga kepakai dan alat jahit tangan, jadilah baju anak jadi warna-warni. Berikut alat dan bahan yang diperlukan:

  • Kain warna-warni
  • Gunting
  • Jarum
  • Benang
  • Jarum pentul
Caranya:
  1. Buat pola-pola gambar yang diinginkan
  2. Gunting kain sesuai bentuk pola
  3. Jahit kain yang sudah berbentuk ke kaos di tempat yang diinginkan
  4. Jadi deh,
  5. Simple kan? Hahaha
Ini hasil yang kudapat setelah njinggleng beberapa lama; 



Gimana teman-teman hasilnya? Lumayan buat ngisi waktu kosong, ini kemarin aku buatnya sampe tak otong-otong ke Semarang. Waktu itu aku diminta menemani kakak yang baru punya baby, selama tiga minggu. Jadi dari rumah udah feeling bakalan ga bisa internetan di sana, jadi untuk membunuh sepi, aku bawa project ini. 

Thursday, April 16, 2015

Go Green dan Irit Beda Tipis

         

     
Sekarang kan gerakan go green lagi booming tuh, nah demi meringankan beban bumi dari kerusakan, tak ada salahnya kalau kita-kita ikutan juga kan? Bagaimana caranya? Yaitu dengan cara mengontrol perilaku kita sehari-hari. Selain sebagai bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan, imbasnya juga membuat kita bisa menghemat pengeluaran,....apalagi yang emak-emak pasti suka kan kan kan? Tapi mungkin bagi orang yang sibuk, hal-hal berikut dianggap kurang efisien, karena memang memerlukan tenaga lebih dan kesabaran. Jadi ini semata-mata pengalamanku, ibu rumah tangga, yang tinggal di desa, bukan bagian dari #momwar, okeh ...
     Berikut ini adalah kebiasaanku yang kuniatkan untuk go green atau juga sengaja untuk ngirit. Dan setelah kupikir-pikir ternyata aksi go green dan irit itu bedanya setipis rambut dibelah tujuh, alias hampir sama. Jadi kalau lagi malu mengakui sedang ngirit, maka alasan yang bisa dikemukakan adalah sedang melakukan aksi go green...hahahaha. So, apa sajakah itu?

  • Bayi pakai popok kain. Ketika Ken masih bayi, pospak hanya kupakaikan ketika bepergian, itupun bepergiannya belum tentu seminggu sekali. Di rumah pakai popok atau celana kain biasa. Resikonya ya ngompol di berbagai sudut rumah. Kebetulan rumahku tidak pakai gelaran karpet, jadi ya gampang saja. Bekas ompol di lap pel basah. Udah, gitu aja. Sekarang mari kita tilik dari segi irit dan go green nya. Iritkah? Tentu saja. Jika saja pospak isi 9 harganya 16 ribu, maka dalam sebulan budget pospak adalah sekitar 112 rb, itu dengan asumsi sehari pakai 2 pospak. Nah, kalau pakai celana kain, dengan 16 ribu saja kita sudah bisa beli attack untuk mencuci sebulan, ga cuma baju dan celana anak, tapi ya gombal-gombal e bapak dan emaknya juga. Kemudian kalau ditilik dari segi go green, jika sehari pakai 2 pospak maka dalam sebulan bakal ada 60 sampah pospak. Itu baru satu anak, bayangkan kalau satu RT pakai pospak semua, terus satu RW, terus satu kelurahan, terus terus terus.... Gunung pospak pasti tak terelakkan lagi kan? Lalu pertanyaannya, tugas siapakah mengurai sampah pospak itu? 
  • Bayi minum ASI. Sejak lahir sampai sekarang, Ken memang minum ASI dan kurang suka dengan susu formula. Bukan maksudku nge-judge ibu-ibu yang memberi susu formula lho ya, aku melakukan ini karena memang aku di rumah, jadi tidak ada halangan bagiku untuk memberi ASI. Bayi haus tinggal sorongin tuh ASI, beres. Irit? Pasti. Dengan asumsi susu formula harga 90 ribu untuk 5 hari, maka sebulan kita bisa mengamankan sekitar 540 ribu. Dengan memberi ASI, otomatis tidak nyampah kaleng, kardus atau alumunium foil kemasan susu.
  • Hemat listrik dan air, seperti yang dihimbau oleh PLN dan PDAM, sebagai makhluk yang irit, aku perlu mengaplikasikan juga himbauan ini. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah ini berkaitan dengan ketersediaan sumber daya alam. Jadi ketika kita mau boros listrik mikirnya harus jauh ke depan, bukan karena 'oh saya bisa bayar ini', tapi tentang sumber daya alam minyak bumi dan batu bara yang semakin hari semakin menipis. #sokpinter. Dan imbas secara langsungnya adalah tagihan listrik dan air bakal lebih menipis. Terus kalau bocah inilagi cinta lingkungan atau main air yaaaaa?


  • Memilah sampah. Aku paling hobi nih memilah sampah. Bagaimana caranya? Sampah sisa makanan lempar ke kandang ayam atau kolam ikan. Kantong plastik bersih disendiriin, bisa buat wadah apa gitu di kemudian hari. Plastik kotor atau yang ga bisa dipakai lagi dan benda lain yang bisa terbakar dikumpulin untuk menyulut api di dapur. Sampah besi, kaleng, botol plastik dan kardus dikumpulin buat dijual. Bagi yang tinggal di kota dan sampahnya dibuang ke TPA, memilah sampah juga bagus lho, karena akan memudahkan pemulung ngambilin sampah yang bisa di-recycle..#berdasarkan-imaginasi-sendiri. Lha aku prihatin lihat gelundungan sampah dalam kantong-kantong plastik, berbau menyengat di tempat pembuangan sampah sementara di pinggir jalan. Kebayang kan kalau semua sampah dicampur, sisa nasi, campur plastik-plastik, campur sisa opor, dsb. Campur aduk, dengan bau yang tidak sedap. Yah .. Karena kita yang menghasilkan sampah, maka sebaiknya kita sendiri juga ikut memikirkan sampah yang kita hasilkan. 
  • Reduce, atau meminimalkan konsumsi suatu barang. Aku suka ngeri sendiri lihat tumpukan barang tidak terpakai di rumah. Maka dari itu aku meminimalisir berbagai hal, seperti: Ketika beli sesuatu, kemudian barang itu bisa kutenteng atau dimasukin tas, maka aku tidak mau diberi kantong plastik; jarang beli baju, karena aku merasa bajuku sudah cukup, dan banyak baju yang ternyata jarang kupakai, jadi ketimbang beli menuh-_menuhin lemari, ya mending cuci kering pakai, (padahal seringe pengin baju yang keliatannya bagus, tapi uang e ga ada hahaha). Dengan me-reduce, selain bisa menghemat pengeluaran juga menghemat sumber daya yang dipakai untuk memproduksi suatu barang.
  • Memasak pakai kayu. Berhubung di rumah ada bertumpuk-tumpuk kayu bakar jadi ya sayang kalau dianggurin, sekalian juga untuk menghemat gas elpiji yang harganya terus melambung. Jadinya bener bener hemat, tabung ukuran 12 kg dulu bisa bertahan sampai 6 bulan, karena pemakaiannya terbatas untuk hal-hal kecil seperti goreng telur, atau manasin sayur.
Humm sudah hampir subuh, sementara baru ini yang kuingat, nanti kalau ada hal-hal lain yang kuingat insyaallah bakal kutambahkan. Salam irit yang berkedok go green.. ;)

Friday, April 10, 2015

Tablet pertamaku, Advan Vandroid T1J+

   Tak ada angin dan badai, tiba-tiba beberapa hari yang lalu Peip mengajak ke pameran gadget dan menawarkan untuk membelikan tablet. Oo..oo.. Yang benar saja, ujarku tak yakin. Aku tak yakin karena merasa ga butuh tablet. Sebenernya kalau dikasih ya tiba-tiba merasa butuh sih hihi. Ya gimana, aku sudah punya 2 hp dan ada PC. Dari gadgetku itu aku rasa sudah bisa meng-cover semua hal. Sms, nelpon, WA, bbm, browsing, dll. Jadi buat apa beli tablet, sayang duitnyeeee kan haha #emak-emak banget. Buat beli paket blackberry aja aku eman, apalagi ditambahi ngopeni satu tablet lagi... Duh duh ... Apalagi dari yang pernah kubaca, banyak yang bilang kalau blogging pakai tablet itu seringnya typo. Dengan setengah ikhlas aku katakan tidak pada Peip. Tapi Peip bilang nanti pasti aku butuh ketika bepergian, misal seperti kemarin pas di Semarang 3 minggu. Atau pas ke tempat mbah Ngawi, kan biasanya bisa sampai sebulan di sana.
          Meski merasa ga perlu, tapi aku kok ya manut aja diajak berangkat ke Singosaren plaza..haha. Sampai di sana ternyata pamerannya tidak seperti yang kami perkirakan. Vendor yang buka lapak cuma sedikit sekitar 5 atau 6 gitu. Akhirnya kami malah lihat- lihat di lantai dasar yang memang jadi pusat gadget. Peip menyerahkan pilihan padaku, tapi dengan catatan pilih advan aja. Ini mengingat kemampuan kocek hehe💰. Aku malah jadinya senewen ketika disuruh nyari yang cocok. Lha aku belum siap mau beli tablet #eh..maksudku aku belum punya product knowledge sama sekali. Jadi aku blank dengan fitur fitur tablet. Tapi karena sudah on the spot, ya gimana lagi. Aku mampir di satu konter yang jual tablet, baru nanya harga-harga sebentar, eh si tole rewel. Jalan lagi lah kita.
       Setelah tengok kiri kanan, mampir lagi di satu konter, nanya tentang harga dan spesifikasi dari beberapa produk Advan. Cukup lama aku nanya dan membandingkan fitur-fitur dari beberapa produk 😨. Finally ...jreng jreng....terpilihlah ini tablet AdvanT1J +, rupa-rupanya seri ini merupakan perbaikan dari seri serupa sebelumnya. Berikut ini spesifikasinya:


Display: 7 inch (1024x600) IPS screen
OS: Kitkat 4.4
Processor: Quad core 1.3 Ghz
RAM : 1 GB
Internal memory: 8 GB
Camera: rear 3 Mp, front 2 Mp
Simcard: Dual Simcard
Bluetooth: V.4.0
Wi-fi: 802.11 b/g/n
Battery: 3000 mAh
3G tablet android OS, HSPA+
USB OTG
Aplikasi yang udah ada, browser, calculator, clock, calendar, media player, FM radio, E-book reader, video & audio recorder, GPS, email, google play.



     Dengan merogoh kocek sekitar IDR 1.150.000, maka tablet ini sudah bisa digunakan. Aku belum pernah memakai tablet sebelumnya, jadi tidak bisa membandingkan dengan yang lainnya. Yang jelas performanya sudah sangat lumayan. Lihat youtube pakai wi-fi speedy lumayan lancar. Bisa diinstal berbagai aplikasi dengan mudah, segala sosmed, game, aplikasi foto, bisa untuk nelpon dan sms, dsb, ngeblog juga jadi makin gampang, bisa dimanapun. Tapi yaitu, emang bener, ngetiknya suka typo. Kemudian untuk hasil kamera juga kurang cling. Tapi overall, dibanding dengan harganya, tablet ini sudah sangat lumayan.

Tuesday, April 7, 2015

Persiapan Menyapih

        Akhir bulan ini Ken sudah menginjak usia 24 bulan alias 2 tahun. Hmm rupanya tinggal sebentar lagi tugasku menyusui, padahal rasanya baru aja ngelahirin dia. Ternyata kini dia sudah bukan bayi lagi, sudah jadi bocah. Jujur saja saya merasa agak patah hati juga, bakalan berkurang interaksiku dengannya. Biasanya dikit-dikit nyari bunda nana, nemplok, sepertinya merasa nyaman kalau sudah aku kempit. Ahh .. Bakalan tak ada lagi adegan itu. Tapi ya sudahlah, ini demi kemandiriannya juga. Sudah waktunya dia belajar banyak hal lagi, mengeksplor sekeliling, dan bersosialisasi dengan teman, tanpa harus nemplok-nemplok emaknya ini lagi.
      Sekarang masalahnya adalah, bagaimana caranya agar aku bisa menyapih dengan nyaman antara kedua pihak, emak-anak dan berhasil pas di usianya 2 tahun? Cara nyapih yang lagi hits tidak lain tidak bukan adalah WWL. Tapi sepertinya aku masih perlu cara yang lebih jitu juga aka lebih instan. WWL itu main sabar-sabaran, jadi engga bisa ditarget. Sejak dari Ken umur 1,5 tahun, sebenarnya aku sudah sounding kalau dia sudah gedhe mimiknya pakai gelas saja. Tetapi tanggapannya pasti geleng-geleng kepala dan bilang "emoh .. Mik nda nana wae".
    Sebenarnya sebulan yang lalu aku dapat jalan buat menyapih tanpa harus repot njelasin dan membujuk. Yaitu aku terkena ulat bulu di bawah ketiak dan sebagian dada, alhasil bentol-bentol lah area situ. Ga tau juga kenapa ulat nyasar ke situ. Padahal pakai baju lengan panjang lho. Nah begitu tau bentol, Ken waktu minta nen melihat dengan agak jijik gitu. Lalu aku bilang "bunda lagi sakit, dik ken mimik gelas ya", dia pun setuju, dan habis itu dia ga berani minta nen lagi. Dua hari berhasil menyapihnya, yayyyy! (Sebagai gantinya, tiap mau bobok pakai digendong dulu). Akan tetapi habis itu aku harus ke Semarang untuk menemani kakak iparku yang baru punya baby. Ndelalah di sana dia merasa kurang nyaman, sering rewel. Karena tak enak kalau rewel mulu, akhirnya aku bolehin nen lagi (akunya yang kurang tabah yaa).
        Di semarang 3 minggu, dan pulang dari sana rencananya mau mulai lagi program intensif penyapihan. Eh tapi eh ... Lha kok malah demam, batuk, pilek, tak tega lah mau memulai. Orang dia lemes, rewel mulu, ga mau makan dan minum obat. Satu-satunya asupan yang mau ya ASI, jadi ya ditunda lagi deh sampai bener-bener pulih. And now, my boboi sudah mulai fit, sudah mau makan, batuk pileknya dah hampir sirna. Jadi program bakalan dimulai lagi. Penginnya, nanti pas 2 tahun dah berhasil gitu.
      Ken itu paling butuh nen kalau mau tidur. Jadi planningnya, kalau siang bakal dialihkan perhatiannya lewat main dan berbagai minuman yang menarik. Dia itu tertarik sama minuman yang ada sedotannya dan dibungkus. Jadi bakal aku siapin susu kotak, susu murni, yakult, susu dot dan sari kacang hijau and jus buah yang dibungkus jadi es lilin. Eh, mungkin banyak ibu yang dengan tegas berkata tidak pada dot. Tapi beda dengan aku, aku tuh senengnya bukan ketulungan kalau si boboiken mau minum susu dot nya habis. FYI, dia kurang suka minum susu formula. Sebenarnya kalau makannya lahap gitu saya tak memusingkan tentang susu formula. Tapi makannya juga kurang lahap. Jadi meski pakai dot pun saya malah senang dia mau minum susu buat tambah-tambah nutrisi.
      Nah itu planning buat siang hari, terus malemnya bagaimana? Mengingat tiap kebangun, pasti nen lah yang dicari. Dan dengan keadaan setengah tidur gitu, dia sulit diajak komunikasi dan kompromi, so .…........ (Nyari inspirasi dulu ahh)

Sunday, April 5, 2015

Membiasakan Anak Sholat di Masjid

Sebagai umat muslim, tentu kita tahu bahwa seorang laki-laki afdholnya sholat fardu berjamaah di masjid. Aku cukup sering mengingatkan Peip untuk pergi ke masjid ketika waktu adzan berkumandang, tapi ia masih sibuk dengan aktivitasnya atau ketiduran. Aku sama sekali belum kepikiran dengan my little boboi, hingga satu saat aku mendengarkan radio yang membahas tentang pentingnya mengajak anak untuk sholat di masjid. Meski anak mungkin belum bisa sholat, akan tetapi hal tersebut tetap perlu dilakukan agar anak terbiasa dengan atmosfer masjid, terbiasa pergi ke masjid dan akhirnya menjadikan masjid bagian dari gaya hidupnya.
   Aku pun langsung terhentak, oh my.... Aku punya anak cowok, dan aku punya kewajiban untuk mengajarkan dia untuk sholat di masjid sedini mungkin. Karena katanya mbak si penyiar radio itu, kalau gedhe nanti terlalu canggung, andaikata tiba-tiba disuruh sholat ke masjid. Baiklah, mari kita mulai perjuangan ini. 
   Pertamanya aku meminta Peip mengajak serta si boboi ini sholat berjamaah di mushola seberang jalan. Tapi hasilnya kurang menggembirakan. Katanya si boboi ga mau turun dari gendongan, nangis ketika ditaruh di samping bapake hahaha. Akhirnya sholat lah si bapake sambil gendong. Ya sudahlah, namanya juga pertama kali. Boboi umur 20 bulan. Setelah itu ketika diajak lagi ke mushola ...eh ga mau. Akhirnya beberapa hari kemudian emaknya ini memutuskan untuk cancut taliwanda (turun tangan). Si emak ikut serta sholat di mushola, jadilah si buntut boboi ikut serta. Berbekal dua mainan, sukseslah sampai selesai sholat dia ga nangis. Yah, meski sepanjang sholat dia main truk di sampingku... Tapi paling ngga, dia ga nangis dan ga membuat gaduh. Setelah itu, boboi ga nangis lagi jika diajak ke mushola.
                                                     
Beberapa hal yang musti diperhatikan ketika mengajak anak balita ke masjid adalah, pertama pastikan dia sudah pipis dulu. Tentu ga asyik kan kalau kita harus nyuci karpet karena ompol si kecil (ini pernah kejadian beberapa waktu kemudian ketika boboi sholat bareng bapake), yang kedua jika anak belum bisa tenang mengikuti sholat bawakan dia mainan kesukaannya yang berukuran kecil saja tentunya.
  Itulah pengalamanku mengajak anak balita sholat berjamaah di mushola\masjid. Selamat mencoba man teman.

Ibu Rumah Tangga Penuh Semangat di Usia Cantik

Umur kami terpaut cukup jauh, yakni 11 tahun, tapi entah kenapa banyak orang-orang yang keliru mengenali kami. Terutama simbah-simbah d...

popular posts