Thursday, November 27, 2014

Jejak Kaki Kecil Ken

       Sore-sore hujan deres, paling enak ngobrol-ngobrol cantik sambil minum teh anget kan ya? Berhubung kemarin lagi di rumah sama Kenken aja jadi ngrumpi cantiknya barengan teman lama lewat BBM. Kebetulan dia habis lahiran anak kedua, jadi obrolannya ya tentang pertumbuhan anak dan sekitarnya.. hehe. Melihat DP ku, temanku ini bertanya "Itu fotomu sama Ken di Tawangmangu ya?". Iya memang benar, itu foto waktu ke Tawangmangu seminggu yang lalu. Habis itu dia cerita kalau anak pertamanya sampai kini usia 2 tahun belum pernah diajak kemana-mana. "Haaaaa ... yang bener aja" sergahku cukup terpana. Bahkan katanya ke mall deket rumah aja belum pernah. Ya maklum sih, kedua orang tuanya pekerja keras. Libur di hari Minggu saja, yang seringnya dimanfaatkan untuk istirahat. Tapi aku masih sedikit ternganga juga, masa iya sih.
Kebun Teh Kemuning
Di Carrefour
      Aku pun teringat Kenken kecilku, yang selalu kubawa benteyongan kemanapun aku pergi. Elek-elek ngene aku itu hobi traveling sebenarnya. Bahkan bermodal naik motor pun, Kenken selalu ikut serta #hobiapanekat? Ya beginilah enaknya kalau engga kerja kantoran, bisa mblayang-mblayang. Setelah kuingat-ingat ternyata cukup banyak tempat yang sudah dikunjungi Ken di usianya yang kini hampir 19 bulan (dibandingkan anak temenku itu hehe). Ke mall dan supermarket dah ga keitung lagi. Ke tempat budhenya di Semarang juga pernah. Ke tempat simbah yang jaraknya sekitar 84 km pakai motor juga dijabanin, meski seringnya naik bus. Terus beberapa tempat wisata juga pernah disinggahi, antara lain:
Di Sondokoro
  • Pertama kali diajak naik motor dengan jarak cukup jauh pada umur 5 bulan yaitu ke Janti. Waktu itu ada reunian dengan teman-teman kantorku dulu.
  • Lihat rusa di Taman Balekambang
  • Naik kereta tut ...tut...tut ... di Sondokoro
  • Main Pasir di Pantai Telengria
  • Lihat monyet di Tawangmangu
  • Safari ke kebun teh Kemuning - Candi Cetho- Candi Sukuh - Astana Giribangun
   Mungkin sebenarnya batin si Kenken ini menjerit, "Buuunn ....ampun nekat-nekat duunkkk", ya mungkin agak beresiko juga sih naik motor sama balita, kan anginnya kenceng tuh, buat yang tidak tahan mungkin bisa masuk angin. Jadi tips buat yang mau bawa anaknya naik motor untuk jarak jauh, perhatikan baju anak. pastikan semua anggota badan tertutup, pakai tutup kepala, jaket, sepatu, kaus kaki, celana panjang. Tapi perhatikan juga sirkulasi udaranya, jangan sampai pengap kepanasan. Pastikan juga gendongan kita kuat.
       Untuk beberapa hari ke depan ini rencananya mau ngajakin Kenken kusayang lihat pesawat spotting di bandara, soalnya seneng banget liat pesawat di youtube (diajak naik napa buunnn??)..Ya maf ya le, bunbun belum bisa ngajak naik. Toh naik pesawat ga ada rasanya, anteng-anteng aja. Masih berkesan naik sepur Sondokoro kaaann le? hahaha.. untuk cerita di Sondokoro ini bakalan tak buat di postingan terpisah.
 

Tuesday, November 25, 2014

"Buuunnn .......!" panggilnya

        Pertumbuhan anak balita biasanya sangat pesat dan kasat mata. Dari hari ke hari ada saja kemajuan yang diraihnya. Oleh karena itu  membandingkan satu anak dengan yang lainnya kerap kali terjadi. Apalagi ada anak yang sebaya di lingkungan kita. Tak terelakkan lagi kita pasti mengamati pertumbuhan anak kita dengan deg-degan. Contohnya ya daku ini. Kebetulan Ken mempunyai banyak teman sebaya, baik itu anak tetangga, anak sepupu, anak teman kantorku dulu, ataupun anak orang-orang di dunia maya hehe.Maka aku selalu dibuat dag dig dug ketika mengetahui si A udah bisa gini, si B udah bisa gitu, si C udah bisa begono tapi Ken kok belum.
      Salah satu indikator pertumbuhan anak adalah kemampuan bicara. Kata bermakna yang bisa diucapkan  pertama kali oleh Ken adalah "Ayayah" (ayah), ini dia niru sepupunya karena kami membiasakan memanggil bapaknya dengan sebutan "bapak". Kemudian pada umur 14 bulan dia bisa menyebut kata "bapak", dengan sangat jelas dan dengan tekanan yang kuat. Tentu saja hal ini membuatku iri. Bagaimana tidak, hampir 24 jam aku selalu di sampingnya, tapi malah belum bisa memanggilku "bunda". Memang sih, kata "bunda" relatif lebih sulit..tapi kan kan kan ....rasanya gimana gitu ketika Ken teriak-teriak mencari perhatianku hanya dengan "eehhh ...eehhh" atau ketika di sampingku dia hanya mencolek atau menarik-narik tanganku sementara dia sudah bisa memanggil kakak sepupunya "Papang".
     Waktu pun berjalan, kami terus membiasakan Ken memanggil 'bunda'. Umur 16 bulan Ken demen banget dengan kata 'mama'. Dia dapat kata ini dari sepupunya juga. Sebentar-sebentar dia bilang 'mama', sampai-sampai bapaknya bilang "Ya sudah, manggilnya 'mama' aja gimana?" "Wah, ga mau aku. Nanti sama kayak budhe nya" ucapku. Aku pun bersabar menunggu saat yang kunantikan tiba.
"Buuunn ..al yu ote?"

















Alhamdulillah, di umurnya yang 17 bulan dia bisa memanggilku "buuun". Lucu sekali dia mengucapkannya. Dilagukan sampai-sampai mulutnya seperti bisa dikuncir saja, karena sampai monyong hihi. Sekarang usianya hampir 19 bulan dan udah bisa manggil "unda", tapi seringnya sih hanya 'buuuuunn', panjang dan dilagukan. Sebentar-sebentar pasti bun ... bun ... bun .... duuuhhhh capek deh jawabnya dik :D 





Saturday, November 22, 2014

Saya Full Time Mother, Tapi ......

          Mempunyai anak tentu merupakan dambaan bagi tiap pasangan yang menikah. Anak merupakan buah cinta ayah dan bunda yang membuat rumah terasa hangat dan ceria, sehingga kehadiran anak merupakan suatu anugerah yang priceless. Oleh sebab itu banyak bunda menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya.Kabar bagusnya, makin ke sini para bunda makin concern dengan tumbuh kembang anak. Mulai dari asupan nutrisi, edukasi, hingga perkembangan psikologis makin diperhatikan. Tambahan lagi, kehadiran internet di masa sekarang membuat informasi-informasi terkait tumbuh kembang anak dengan mudah kita peroleh.
         Seperti anakku Ken ini, bisa dibilang dia adalah anak google. Karena semenjak hamil hingga sekarang aku konsultasinya lebih banyak sama google ketimbang sama dokter hihi #ngirit. Internet memuat banyak sekali informasi dari berbagai kalangan dengan berbagai sudut pandang dan opini. Nah, kabar buruknya ada di bagian ini nihh. Saking penginnya memberikan hal terbaik untuk anak, banyak kalangan bunda yang terjebak dalam perang opini  berkaitan dengan tumbuh kembang anak, baik itu dari masalah ASI, MPASI, masa penyapihan, obat untuk anak, pola pengasuhan, hingga perlukah bunda berhenti kerja untuk mengasuh anak di rumah. Terkait dengan hal terakhir ini saya punya cerita tersendiri, yuk simakkkk :)
      Sebelum punya anak aku kerja di sebuah penerbitan buku. Kerja di bagian editing membuat aku harus sering lembur, sehingga aku punya angan-angan jika nanti dikaruniai anak bakalan resign dari pekerjaan. Selain itu, masa kecilku yang kurang deket dengan orang tua makin memantapkan aku untuk menjadi full time mom.Dalam benakku, kalau aku resign aku bakalan punya banyak waktu untuk anak, bisa sering-sering mengajaknya bermain, bernyanyi, bercerita, memperhatikan makanannya, kebersihan badannya, dan perkembangan psikologisnya. Jadi keputusanku untuk jadi ibu rumah tangga sama sekali ga terpengaruh dari debat di internet yaa .. :D .
        Akhirnya tiba juga waktuku jadi seorang mommyyy, dan akupun benar-benar resign dari kantor. Hingga sekarang udah 1,5 tahun aku di rumah, thennn....hello... gimana kabarnya sekaraang? Apakah saya jadi ibu hebat, wondermom, bunda bahagia, atau mommy keren????? Tunggu dulu ... ternyata saya lebih merasa jadi ibu yang gagal ihikss...*nangistersedusedu. How come? What's wrong? Lihatlah ini Ken, badannya kecil kurang doyan makan, kejedot dan terjatuh-jatuh dari ini itu entah berapa kali ga keitung, ohhh what a careless mom. Selain itu, sering terlewat sesi sikat gigi sehingga gigi atasnya agak kuning, ga berhasil mewujudkan niat untuk rajin memijatnya sendiri, belum berhasil untuk sering-sering memperdengarkan hafalan Al-quran..dll..padahal yaaa, aku ini di rumah 24 jam. Yah memang, aku masih menumpang hidup di rumah mertua. Jadi ketika ada waktu aku penginnya beberes rumah, masak, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Apalagi mertuaku masih aktif bekerja, jadi tentu aku ga enak hati kan kalau beliau pulang kerja, rumah dalam keadaan kotor dan ga ada makanan.. #modus.

       Jadiii, perkara para mommy mau kerja di luar atau stay di rumah aja itu sama sekali ga perlu diperdebatkan, yang penting anak keurus, dan menghabiskan waktu dengan anak dengan penuh kualitas. Jangan seperti daku, anak memang seliweran di sekitarku, tapi sering perhatianku ga ke dia, disambi ini itu. Mau kerja di luar atau stay at home itu pilihan masing-masing pribadi dengan mengacu pada kondisi yang menyertai, tidak bisa disama-samain dan tidak bisa dipaksakan
    

Ibu Rumah Tangga Penuh Semangat di Usia Cantik

Umur kami terpaut cukup jauh, yakni 11 tahun, tapi entah kenapa banyak orang-orang yang keliru mengenali kami. Terutama simbah-simbah d...

popular posts