Mendaki Gunung Lawu

Ternyata draft tulisan ini dah bersarang hampir 4 tahun, ckckck ...Ini ceritaku ketika mendaki Gunung Lawu, tahun 2010.

        Pada tanggal 31 maret 2010, aku berkesempatan mengunjungi puncak Gunung Lawu untuk kedua kalinya. Kunjungan pertama pada tahun 2007 lalu bersama teman-teman kampus, sementara kali ini aku bersama saudara-saudara...ceritanya ini pendakian family edition gitu hehehe...Bermula ketika lebaran tahun 2009, kakak perempuanku yang tinggal di Tangerang (36 tahun) mengutarakan keinginannya untuk mendaki Lawu ( sepertinya terinspirasi dari cerita-cerita adikku yang emang hobi naik gunung, tapi mungkin juga itu adalah cita-cita terpendamnya hehe). Jadinya rencana mendaki Lawu ini digagas sejak awal tahun, dan karena kebetulan bulan Maret kakak berkesempatan pulang kampung karena ada saudara yang menikah, sehingga sekalianlah rencana di gol kan.
       Rabu sore tanggal 31 Maret sehabis magrib kami berenam, 4 cewek, 2 cowok berangkat dari rumah menuju Cemoro Sewu via Kendal - Magetan - Cemoro Sewu. Perjalanan sampai Cemoro Sewu memakan waktu sekitar 1,5 jam. Begitu sampai, kami yang cewek-cewek langsung menunaikan sholat Isya di masjid seberang jalan...bujubuneeeenggg belom-belom kami sudah disergap dingin di masjid, karena lantai dan airnya memang sangatlah dingin. Sementara yang cowok pilih memesan kopi panas di warung sambil menunggu Simbah, teman adik saya yang berangkat sendiri dari Solo. Selesai sholat kami menyusul ke warung dan ternyata Simbah Ajiz sudah bergabung di situ. Dan kami pun ganti ngopi, sementara mereka sholat Isya.
Siap memulai perjalanan
       Pukul 20.30 kami mulai beranjak dari warung dan mempersiapan segala perlengkapan seperti sarung tangan, sleyer, sepatu, dll. Setelah dirasa semuanya siap, kaki kami berderap penuh semangat menuju pos retribusi, yang serta merta juga merupakan pintu masuk jalur pendakian Cemoro Cewu, dengan membayar retribusi Rp. 5.000 per orang. Kami memulai pendakaian dengan segera setelah berdoa bersama. Dengan perlahan kami menyusuri jalan setapak yang makin lama makin menanjak. Mendaki Gunung Lawu tergolong mudah, cocok untuk pemula. Trek nya sudah ada dan jelas, berupa jalan setapak yang memang sudah dipersiapkan untuk memberi kenyamanan para pendaki. Sepanjang jalan setapak ini sudah dilapisi batu-batuan, sehingga tidak becek dan memberi alur yang jelas. Namun untuk perkara menyusurinya ya tetep membuat ngos-ngosan juga, namanya juga gunung. Makin lama jalannya makin terjal, berupa undak-undakan jalan berbatu.
       Malam tak terlalu gelap, malah cenderung terang karena bulan hampir bulat sempurna sedang bersinar cerah.Namun untuk menjaga agar kaki kami tak tersandung atau terperosok, senter tetap kami nyalakan. Keadaan sunyi sekali sehingga kadang aku merasa bergidik, ditambah lagi di kejauhan suara angin yang memantul-mantul menimbulkan suara bergemuruh. Sebentar-sebentar kami berhenti sejenak untuk mengambil nafas, udara cukup bersahabat, meskipun dingin menusuk tapi tak terlalu mengganggu perjalanan kami. Namun bau belerang cukup membuat nafas ini bertambah berat, ini karena baunya cukup tajam.
      Sesampainya di pos 1, kami berhenti istirahat beberapa saat, menyantap bekal makanan yang kami bawa. Kemudian dengan perlahan kami mulai menyusuri lagi jajaran tangga-tangga batu yang sepertinya tidak berujung. Tanpa diduga setelah kami berjalan satu jam kemudian, hujan gerimis turun. Kami agak panik, karena posisi sudah jauh dari pos 1 dan ngga tau apakah pos 2 masih jauh atau tidak. Tak lama kemudian, kami menemukan batu besar yang mempunyai cekungan, sebagian dari kami berlindung di bawah batu yang menjorok tersebut.`Alhamdulillah, hujannya tak lama dan cuma gerimis. 
      Meski dengan terengah-engah, kamipun sampai di pos 2. Kami beristirahat beberapa saat untuk makan, minum dan menyelonjorkan kaki sampai akhirnya komandan meneriakkan "lanjuuuuttt ...!" Setapak demi setapak kudaki jalan berbatu itu. Dalam hati aku bertanya, siapa juga yang angkut-angkut batu dan masang di gunung ini, ini kita bawa badan aja jalannya ngesot-ngesot hahaha. Malam makin larut, lewat tengah malam kami sampai di pos 3. Di sini kami berhenti agak lama, sempet bikin api unggun kecil untuk menghangatkan badan dan tidur beberapa saat. Namun ternyata tak mudah tidur di tempat yang dingin itu, badan menggigil dan jari-jari tangan terasa kaku.Akhirnya ya cuma tidur-tiduran aja, ga bisa pules.
      Sekitar pukul 3, kami berangkat kembali karena hendak mengejar sunrise. Tapi apa mau dikata, ternyata waktu matahari terbit, kita masih jauh banget dari puncak wkwkwkwk ... ya sudahlah. Baru pukul 7 lebih kita sampai di puncak Lawu. Meski ga dapet sunrise, tapi lega dan bahagia bingiiiiiit bisa lihat pemandangan elok dari ketinggian ribuan meter di atas laut. Di puncak kami menyempatkan diri tidur sesaat dan makan. Pukul 9 kami bersiap untuk turun. Kami pun mulai meniti jalan setapak berbatu yang ternyata jalan menurun itu ngga mudah, bikin kaki sakiiiitttt. Lutut rasanya mau copot, dan jari-jari kaki terasa mendesak sepatu. Rasanya pengin copot sepatu aja. Akhirnya setelah melalui liku-liku jalanan, tadaaaaa..... nyampe juga di bumi lagi pukul 13.30. Kaki langsung aku oles-oles minyak tawon, agar ga pegal-pegal setelahnya. Ini berdasarkan pengalaman tahun 2007, aku ga bisa jalan beberapa hari karena kaki pegal minta ampun.
Tugu puncak Lawu
Pemandangan dari atas

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi Brantas

Ken Belajar Hiking di Air Terjun Srambang

Mengunjungi Keraton Solo : Ken Ribet Sendiri