Thursday, January 30, 2014

Pantai Nampu

Pantai Nampu terletak di kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Berada di ujung selatan dan berbatasan dengan wilayah Pacitan, pantai ini jauh dari Kota Wonogiri. Pantai Nampu berpasir putih dengan tekstur yang kasar, karena pasirnya bulat-bulat gede dan banyak karang-karang, so hati-hati kalau mau berenang jangan sampai terantuk karang.
Pantainya penuh karang

Pasirnya putih dan gede-gede

Ombaknya mantabz

Pantai Karanggongso

Pantai Karanggongso terletak di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Dulu itu sebenernya kami mau mengunjungi Pantai Prigi. Akan tetapi karena salah jalan, nyampenya malah ke Pantai Karanggongso... hahaha. Namun kami tak menyesal sama sekali, karena ternyata pantainya indah dan kebetulan waktu itu ada kapal besar yang berlabuh di sana, terlihat sangat ciamik deh ...Butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan dari Ngawi.
Bermain dengan ombak

Lagi musim liburan ... rame

Pertama kali Ina dan Dila ke Pantai

Catatan Tumbuh Kembang Balita

Sebenarnya sejak Ken lahir dulu, pengin nulis perkembangan tiap bulannya. Akan tetapi ternyata itu semua cuma keinginan. Hingga kini umurnya 9 bulan, belum ada sama sekali catatannya hahaha. Sekarang ini mau nulis momen-momen ketika dia mencapai kemajuan tumbuh kembang. Buat pengingat, karena aku suka senyum-senyum kalau inget dia waktu baru bisa gini gitu. Inilah urutannya:
  1. 30 April 2013, 03.50 a.m - Tangisannya menggema di ruang persalinan
  2. 6 Mei 2013 - puput puser
  3. 20 Mei 2013 - tidurnya miring
  4. 2 bulan - bisa tertawa ketika dibecandain
  5. 4 bulan- bisa memegang benda-benda, masukin mulut
  6. 22 Agustus 2013 - bisa tengkurap sendiri
  7. 6 Oktober 2013 - muncul gigi tahap pertama (2 gigi bawah)
  8. November 2013 - muncul gigi tahap kedua (2 gigi atas)
  9. 27 Desember 2013- bisa ngangkat tubuh posisi merangkak
  10. 28 Januari 2013 - muncul gigi tahap ketiga (2 gigi atas)
  11. 29 Januari 2014 - bisa duduk sendiri dari posisi tengkurap
  12. 3 Februari 2014- bisa menggeser badan ke depan dengan posisi tengkurap 
  13. 26 Februari 2014 - bisa merangkak
  14. 11 Maret 2014 -bisa berdiri manjat
  15. 29 Maret 2014 - muncul gigi tahap ke empat (1 gigi bawah kiri) 
  16. Awal April 2014 - muncul gigi ke 8
  17. 16 April 2014 - berjalan merambat pelan 
  18. 20 Juni 2014 - Bisa berjalan
  19. Awal Juli 2014 - Bisa bilang "Bapak"
  20.  16 September - muncul gigi ke 9 (1 gigi bawah kiri)
  21. Mei 2015 - bisa melompat dengan dua kaki diangkat.
  22. 6 Mei 2015 - bisa menuntun sepeda
  23. 28 Juli 2015 - muncul gigi ke 17 dan 18
  24. 27 Oktober 2015 - muncul gigi ke 19 ( geraham atas kiri)
  25. 6 November 2015 - gigi ke 20 nyampe juga akhirnya. Geraham atas kanan.
  26.  April 2016 - pakai celana sendiri
  27. April 2017 - pakai kaos sendiri
Note: - Jatuh pertama kali dari tempat tidur usia 2 bulan
          - Gigi tumbuh selalu diawali bagian kiri (ex: 2 gigi bawah, yang muncul pertama gigi bawah sebelah kiri.
- Naik motor Solo-Ngawi pertama kali 15 Desember 2013 (istirahat 2x)
- Bisa minum pakai sedotan 11 Maret 2014

Tuesday, January 28, 2014

Mendaki Gunung Lawu

Ternyata draft tulisan ini dah bersarang hampir 4 tahun, ckckck ...Ini ceritaku ketika mendaki Gunung Lawu, tahun 2010.

        Pada tanggal 31 maret 2010, aku berkesempatan mengunjungi puncak Gunung Lawu untuk kedua kalinya. Kunjungan pertama pada tahun 2007 lalu bersama teman-teman kampus, sementara kali ini aku bersama saudara-saudara...ceritanya ini pendakian family edition gitu hehehe...Bermula ketika lebaran tahun 2009, kakak perempuanku yang tinggal di Tangerang (36 tahun) mengutarakan keinginannya untuk mendaki Lawu ( sepertinya terinspirasi dari cerita-cerita adikku yang emang hobi naik gunung, tapi mungkin juga itu adalah cita-cita terpendamnya hehe). Jadinya rencana mendaki Lawu ini digagas sejak awal tahun, dan karena kebetulan bulan Maret kakak berkesempatan pulang kampung karena ada saudara yang menikah, sehingga sekalianlah rencana di gol kan.
       Rabu sore tanggal 31 Maret sehabis magrib kami berenam, 4 cewek, 2 cowok berangkat dari rumah menuju Cemoro Sewu via Kendal - Magetan - Cemoro Sewu. Perjalanan sampai Cemoro Sewu memakan waktu sekitar 1,5 jam. Begitu sampai, kami yang cewek-cewek langsung menunaikan sholat Isya di masjid seberang jalan...bujubuneeeenggg belom-belom kami sudah disergap dingin di masjid, karena lantai dan airnya memang sangatlah dingin. Sementara yang cowok pilih memesan kopi panas di warung sambil menunggu Simbah, teman adik saya yang berangkat sendiri dari Solo. Selesai sholat kami menyusul ke warung dan ternyata Simbah Ajiz sudah bergabung di situ. Dan kami pun ganti ngopi, sementara mereka sholat Isya.
Siap memulai perjalanan
       Pukul 20.30 kami mulai beranjak dari warung dan mempersiapan segala perlengkapan seperti sarung tangan, sleyer, sepatu, dll. Setelah dirasa semuanya siap, kaki kami berderap penuh semangat menuju pos retribusi, yang serta merta juga merupakan pintu masuk jalur pendakian Cemoro Cewu, dengan membayar retribusi Rp. 5.000 per orang. Kami memulai pendakaian dengan segera setelah berdoa bersama. Dengan perlahan kami menyusuri jalan setapak yang makin lama makin menanjak. Mendaki Gunung Lawu tergolong mudah, cocok untuk pemula. Trek nya sudah ada dan jelas, berupa jalan setapak yang memang sudah dipersiapkan untuk memberi kenyamanan para pendaki. Sepanjang jalan setapak ini sudah dilapisi batu-batuan, sehingga tidak becek dan memberi alur yang jelas. Namun untuk perkara menyusurinya ya tetep membuat ngos-ngosan juga, namanya juga gunung. Makin lama jalannya makin terjal, berupa undak-undakan jalan berbatu.
       Malam tak terlalu gelap, malah cenderung terang karena bulan hampir bulat sempurna sedang bersinar cerah.Namun untuk menjaga agar kaki kami tak tersandung atau terperosok, senter tetap kami nyalakan. Keadaan sunyi sekali sehingga kadang aku merasa bergidik, ditambah lagi di kejauhan suara angin yang memantul-mantul menimbulkan suara bergemuruh. Sebentar-sebentar kami berhenti sejenak untuk mengambil nafas, udara cukup bersahabat, meskipun dingin menusuk tapi tak terlalu mengganggu perjalanan kami. Namun bau belerang cukup membuat nafas ini bertambah berat, ini karena baunya cukup tajam.
      Sesampainya di pos 1, kami berhenti istirahat beberapa saat, menyantap bekal makanan yang kami bawa. Kemudian dengan perlahan kami mulai menyusuri lagi jajaran tangga-tangga batu yang sepertinya tidak berujung. Tanpa diduga setelah kami berjalan satu jam kemudian, hujan gerimis turun. Kami agak panik, karena posisi sudah jauh dari pos 1 dan ngga tau apakah pos 2 masih jauh atau tidak. Tak lama kemudian, kami menemukan batu besar yang mempunyai cekungan, sebagian dari kami berlindung di bawah batu yang menjorok tersebut.`Alhamdulillah, hujannya tak lama dan cuma gerimis. 
      Meski dengan terengah-engah, kamipun sampai di pos 2. Kami beristirahat beberapa saat untuk makan, minum dan menyelonjorkan kaki sampai akhirnya komandan meneriakkan "lanjuuuuttt ...!" Setapak demi setapak kudaki jalan berbatu itu. Dalam hati aku bertanya, siapa juga yang angkut-angkut batu dan masang di gunung ini, ini kita bawa badan aja jalannya ngesot-ngesot hahaha. Malam makin larut, lewat tengah malam kami sampai di pos 3. Di sini kami berhenti agak lama, sempet bikin api unggun kecil untuk menghangatkan badan dan tidur beberapa saat. Namun ternyata tak mudah tidur di tempat yang dingin itu, badan menggigil dan jari-jari tangan terasa kaku.Akhirnya ya cuma tidur-tiduran aja, ga bisa pules.
      Sekitar pukul 3, kami berangkat kembali karena hendak mengejar sunrise. Tapi apa mau dikata, ternyata waktu matahari terbit, kita masih jauh banget dari puncak wkwkwkwk ... ya sudahlah. Baru pukul 7 lebih kita sampai di puncak Lawu. Meski ga dapet sunrise, tapi lega dan bahagia bingiiiiiit bisa lihat pemandangan elok dari ketinggian ribuan meter di atas laut. Di puncak kami menyempatkan diri tidur sesaat dan makan. Pukul 9 kami bersiap untuk turun. Kami pun mulai meniti jalan setapak berbatu yang ternyata jalan menurun itu ngga mudah, bikin kaki sakiiiitttt. Lutut rasanya mau copot, dan jari-jari kaki terasa mendesak sepatu. Rasanya pengin copot sepatu aja. Akhirnya setelah melalui liku-liku jalanan, tadaaaaa..... nyampe juga di bumi lagi pukul 13.30. Kaki langsung aku oles-oles minyak tawon, agar ga pegal-pegal setelahnya. Ini berdasarkan pengalaman tahun 2007, aku ga bisa jalan beberapa hari karena kaki pegal minta ampun.
Tugu puncak Lawu
Pemandangan dari atas

ODOJ dan ODOP

         Hari-hari ini banyak orang yang membicarakan tentang ODOJ, bahkan ada juga yang membentuk komunitas-komunitas. Terinspirasi, akupun tergerak untuk ngikutin program ini secara mandiri. ODOJ merupakan kependekan dari One Day One Juz, yaitu program membaca Al-Quran dengan target satu hari satu juz. Sebenarnya program ini bukan hal asing bagiku. Dulu waktu kuliah aku pernah ngejalani ini. Waktu itu mudah saja, karena banyak waktu luang. Biasanya aku bacanya nyicil tiap habis sholat sekitar 2 lembar, sehingga satu hari bisa satu juz. Sangat ringan dan mudah.
Ken mau ikut ODOJ juga nih .. :)
        Namun kali ini, membaca Al-quran tiap habis sholat terasa suliiiiittttttt. Boro-boro baca Al-quran, sholat dengan tenang dan lengkap dengan dzikirnya aja agak susah. Kenapa bisa begitu? Ya karena buntutku Ken ini ga bisa ditinggal dalam jangka agak lama. Kadang baru sholat dapat dua atau tiga rakaat gitu udah merengek-rengek, ya apa daya .. sholatnya dicepetin deh.(Kebanyakan alasan ya, Ken jadi kambing hitam pula wkwkwk). Sebenernya aku punya waktu banyak ketika sholat Isya, karena biasanya Ken udah bobok. Namun kalau harus langsung nyelesein satu juz satu waktu itu, waduh yang ga kuat mata ini nih. Ngantuukkk #alasanlagi...... hahaha.

        Satu lagi program yang ingin kulakukan adalah ODOP. Apaan tuh? ODOP yaitu One Day One Post, maksudnya dalam sehari harus nulis satu postingan di blog. Namun kembali lagi seperti di atas, ga ada waktu buat buka komputer. Aku bisa ngapa-ngapain biasanya ketika Ken lagi bobok, padahal kalau siang waktu Ken bobok aku pakai buat ngurusi kerjaan rumah tangga. Bisanya ya malem. Namun lagi-lagi... Seringnya aku langsung tepar, ga kuat lagi melek.
         Untuk itu, maka dari itu, karena itu, aku sedang mencari formula bagaimana memenej waktuku biar aku tetep produktif meski harus momong dan ngurusin pekerjaan rumah tangga .....#mikirserius


Friday, January 10, 2014

Resep Jamur Goreng Renyah

         Jamur merupakan salah satu bahan makanan favoritku. Saat musim hujan begini biasanya berbagai jenis jamur akan bermunculan. Tentu munculnya di tempat yang memungkinkan, bukan di sini yang hampir seluruh wilayahnya tertutup plesteran dan aspal. Di rumah Ngawi masih banyak ditemui berbagai jenis jamur sebagaimana jaman kecilku dulu, secara emang kondisi lingkungan belum banyak berubah, masih banyak kebon dan pokok-pokok pohon mati.Di situlah muncul berbagai jenis jamur, seperti jamur barat, jamur olan, jamur gigit, jamur cikrak, jamur spaki, jamur kidang, jamur lot, jamur merang, jamur so, jamur trucuk, jamur kuping.  Mungkin nanti aku harus membuat postingan tersendiri tentang jamur-jamur tersebut. Selain untuk mengenang masa kecil juga untuk mendokumentasikan berbagai jamur yang edible yang ada di sekitar kita.
       Beberapa hari lalu saat aku di Ngawi, pagi-pagi aku buka jendela dapur, dan whuuaaa..... di sebrang jendela, aku melihat pokok pohon mangga yang sudah mati penuh dengan jamur. Dengan excited aku teriak "Pak ...pak ...ning wit pelem kae akeh banget jamure. Enak dipangan po ora kae?" "Enak ... kae jamur lot" sahut bapak sambil bergegas mengambil tangga hendak memanen jamur tersebut. Tak berapa lama kemudian bapak sudah kembali dengan satu kresek jamur lot yang setara dengan satu ember cat ukuran 5 kg munjung. Wah banyak juga, enaknya diapaain yaa. Akhirnya jamur tersebut sebagian aku bothok, dan sebagian aku goreng, sisanya disimpen di kulkas. Berikut ini resepku menggoreng jamur lot tersebut (resep ini biasanya aku aplikasikan untuk jamur tiram). Resep ini tidak pakai ukuran, karena aku kira-kira saja.

Jamur lot goreng
Bahan:
- jamur lot
- tepung terigu
- tepung beras

Bumbu:
- garam
- bawang putih
- ketumbar

Cara membuat:
- Suwir-suwir jamur hingga pada ukuran pantas disuap :P
- Uleg bumbu hingga halus dan tambahkan air.
- Campur tepung beras dan terigu dengan jumlah 1:1
- Masukkan suwiran jamur ke dalam bumbu
- Kemudian guling-gulingkan pada tepung sambil ditekan-tekan.
- Goreng dalam minyak panas
- Setelah kecoklatan, angkat dan siap disantap :)

Ibu Rumah Tangga Penuh Semangat di Usia Cantik

Umur kami terpaut cukup jauh, yakni 11 tahun, tapi entah kenapa banyak orang-orang yang keliru mengenali kami. Terutama simbah-simbah d...

popular posts