Sunday, December 28, 2014

Belanja ke Pasar Klewer

        Sebulan yang lalu ibuk Ngawi memintaku untuk membelikan barang untuk oleh-oleh haji yang rencananya bakal dibagi hari ini, pas ada acara arisan keluarga di Sragen. Meski pesennya dah sebulan yang lalu tetapi ternyata eh ternyata baru kemarin bisa belanjanya... hmm jiwa deadliner nih hohoho. Pedagang di Klewer banyak yang baru buka siang-siang sekitar jam 10, jadi kami (Aku, Ken, Peip (Bapake Ken)) berangkat udah siang, jam setengah 11. Rencananya aku mau beli peci, jilbab sama sajadah. 
    Berkeliling sejenak, aku menemukan kios jilbab. Baru aja berhenti, Ken udah rewel aja, mungkin karena hawanya yang panas. Jadinya si bocil malah ngglibet sama aku, padahal sini maunya lihat sana lihat sini. Akhirnya tanpa terlalu lama nawar aku ambil aja 1,5 kodi jilbab instan dengan harga 20 rb/buah. Habis dapat jilbab lanjut ke toko peci yang aku pernah beli di situ juga dulu. Kiosnya di pinggir, bagian utara. Sampai situ ternyata kios kosong, kata bapak-bapak di sekitar situ, pemiliknya lagi sholat duhur. 
      Akhirnya kami memutuskan untuk sholat duhur juga di Masjid Agung. Di masjid ramai sekali, bukan hanya orang yang hendak sholat tetapi ternyata ada acara sekaten. Di pelataran masjid banyak banget yang jualan. Ada yang jualan makanan, mainan, peci, sandal, dll. Tak ketinggalan yang khas kalau ada sekaten yaitu telur asin. Aku belum tahu sejarahnya kenapa kalau sekaten makanan yang khas itu telur asin, atau yang biasa disebut endog amal. Ken sendiri kurang suka telur asin, dia malah minta kelengkeng.

Gangsingan bambu
Nah di samping penjual kelengkeng ada bapak tua penjual mainan tradisional. Peip beli gangsingan seharga 10 ribu. Ken sendiri tentu belum bisa main gangsingan, jadi yang bakalan main sapa lagi kalau bukan Peip haha. Kata Peip "kasihan penjualnya, sudah tua, dari Gunungkidul pula"
Sibuk maem kelengkeng di teras masjid
Habis beli itu, kami sholat duhur bergantian. Meskipun masjidnya gedhe dan bersih, tetapi ada satu hal yang kurang sreg di hatiku kalau sholat di sini, yaitu tempat wudhunya. Tempat wudhu berupa bak tinggi persegi panjang yang diberi banyak kran di empat sisi bodynya ..halah..bahasanya. Nah permasalahannya adalah...kran-kran ini bawahnya ada tampungan airnya kira-kira setinggi paha. Jadi susah mau membasuh kaki, masak mau diangkat tinggi-tinggi kakinya. Mau pakai air yang di tampungan bawah kran itu juga meragukan, suci apa tidak. Karena kan sudah pasti kena bekas air wudhu. Tetapi kemarin beberapa kran sudah di sambung selang agak panjang, jadi bisa langsung buat mbasuh kaki sekalian. Selain itu tersedia juga beberapa gayung, jadi kalau mau mbasuh kaki pakai gayung. Beberapa orang kulihat memakai air dari tampungan kran untuk membasuh kaki, padahal di sisi lain banyak juga yang mbasuh tangan langsung di bawah kran yang mana air bekasnya masuk ke tampungan kran. Karena tak yakin dengan kesucian air di tampungan kran, aku memilih nadahin air pakai gayung langsung dari kran buat wudhu.
Banyak penjual di halaman masjid
     Sehabis sholat kami lanjutkan beli-belinya. Beli peci 30 buah @ Rp 6.000 di kios yang kami datangi tadi. Kemudian beli sajadah 30 buah @ Rp 22.500 di kios yang lain. Ternyata banyak juga barangnya. Aku kebagian gendong Ken dan Peip mengangkut semua barangnya dengan agak terseok-seok hihi. Tiba di parkiran motor ternyata gerimis, mana tidak bawa jas hujan lagi, mana perut keroncongan lagi, mau bagaimana lagiii hihi... Akhirnya mampir ke tempat makan ayam goreng. Di situ hujan tambah deres, dan kita menunggu hujan reda sangat lamaaaaa ... hingga akhirnya Ken  tidur di pangkuan Peip.
Peci
Sajadah






Saturday, December 27, 2014

Memberi Kado yang Tepat Untuk Orang Lahiran

   

      Sudah jadi kebiasaan, kalau ada yang habis melahirkan di lingkungan persaudaraan atau pertemanan, kalau tidak ada halangan aku akan menengoknya. Menengoknya pun tidak harus seketika waktu lahiran, bisa beberapa hari kemudian, 1 minggu, 1 bulan, ya pokoknya sesempatnya lah. Selain sebagai ajang silaturahim, tengok menengok ini juga sebagai bentuk perhatian  terhadap teman ataupun saudara. Dan lebih lagi, aku juga suka penasaran seperti apa bayinya. Pasti banyak juga teman-teman yang melakukannya, bukan? Nah biasanya nih kita nengoknya bukan hanya dengan tangan kosong kan? Pasti kita bawa sesuatu. Seperti waktu melahirkan kemarin, aku mendapat banyak hadiah yang beraneka macam. Ada yang ngasih jarit, baju anak, celana, gendongan, selimut, kaus kaki, mainan, kasur bayi, bantal guling, sepatu, alat makan, handuk, kosmetik bayi, ada juga yang ngasih mentahnya (uang), dll.
     Nah dari berbagai hadiah yang kuterima tersebut aku mempunyai kesimpulan, yang mana bisa jadi acuan kalau aku nanti memberi hadiah untuk orang melahirkan juga. Sah-sah aja sebenarnya mau memberi hadiah apapun, tetapi kalau bisa tepat sasaran kan tidak hanya teronggok di atas lemari saja jadinya. Berikut kesimpulan yang kudapatkan:
  • Kebutuhan bayi baru lahir sudah dipersiapkan   
Kalau aku bilang, hindari memberi hadiah kebutuhan dasar bayi baru lahir. Kenapa bisa begitu? Kan kita ini nengokin orang lahiran masak ngadonya peralatan masak?! Waiiitt ... karena biasanya si ibu bayi sudah menyiapkan berbagai kebutuhan bayi jauh-jauh hari sebelum lahir. Bagi calon ibu, belanja kebutuhan bayi itu sangaaaattt menyenangkan. Memilih pernak pernik yang lucu-lucu sambil membayangkan si calon bayi yang sebentar lagi lahir merupakan hiburan tersendiri. Jadi, popok, gendongan dan teman-temannya itu biasanya udah disiapin sama si calon ibu, calon mama, calon bunda dengan lengkap. Aku pernah nulis juga tentang daftar belanjaanku untuk bayi baru lahir di sini.

  • Perhatikan juga ibu bayi
Meski nengokin bayi baru lahir, tetapi tidak ada salahnya kan memberi hadiahnya berupa kebutuhan ibu. Karena hampir semua hadiah yang kuterima berupa barang untuk bayi, nah ceritanya akunya iri nih hihihi. Ya di masa-masa melahirkan dan menyusui ini, ibu biasanya didera kelelahan. karena perubahan pola tidur dan juga harus menjaga si kecil. Jadi ketika dapat hadiah mungkin akan menyenangkan, karena merasa terperhatikan, dan refreshing gitu. Punya barang baru pasti kan rasanya menyenangkan tho? Hihi. Sapa tau aja, ada yang ngasih laptop, atau gejet lain gitu... pasti ibu seneng kan .. kan ,,,kan ,,, haha.
  • Tanyakan ke yang bersangkutan
Kalau  memungkinkan, misalnya yang baru melahirkan itu teman dekat atau saudara, tanyakan saja langsung maunya hadiah apa. Dengan cara ini hadiah akan tepat sasaran. Jadi hadiah itu nantinya benar-benar berguna dan sangat membantu, karena si ibu bayi tak perlu lagi membelinya. Beberapa orang melakukan hal tersebut kepadaku, sebagai contohnya, aku dapat breastpump, dan lemari kecil (kabinet).
  •  Seperti apa hadiah yang cocok?
Lalu bagaimana jika hendak memberi hadiah tanpa bertanya dulu, tapi berharap barang itu bakalan terpakai:
- Berikan hadiah berupa pakaian untuk bayi umur 3 bulan ke atas. Biasanya ibu belum banyak membeli perlengkapan anak yang lebih besar. Untuk anak yang ngga pakai diaper sekali pakai, hadiah setumpuk celana begini sangatlah besar manfaatnya. Apalagi musim hujan kayak begini. Atau bisa juga di kado clodi, biar mendukung kampanye go green.



- Kalau jamak memberi “amplop berisi”, hal tersebut  tentu sangat berguna juga, karena akan lebih fleksibel. Siapapun pasti akan bilang kalau uang pasti berguna kan yaaaaa. Amplop berisi ini bisa membantu memenuhi kebutuhan si ibu bayi. Tau kan ya, merawat anak itu butuh dana besar juga #curhat.
Amplop berisi pasti terpakai :)

- Mainan bayi juga sangat berguna kelak di umur 3 bulanan, sementara biasanya pada saat kelahiran bayi, ibu belum banyak mempersiapkan. Hadiah berupa mainan bayi akan sangat membantu ibu untuk menstimulasi perkembangan bayinya. Bisa juga memberi theeter, yamg kelak bakal digunakan ketika giginya mau numbuh. Jadi jangan ragu memberikan mainan, pasti akan berguna. 
Salah satu mainan bayi


Nah itu sedikit kesimpulan yang aku dapatkan dari pengalamanku melahirkan kemarin, mungkin teman-teman ada yang mau menambahkan? Silahkannnnn #senyum-manis

Sunday, December 21, 2014

Antara Kreatif, Ngirit dan Belajar Jahit

      Kata "kreatif" dan "ngirit" sebenarnya mempunyai makna yang sangat berbeda. Namun pada praktiknya mempunyai keterkaitan yang cukup erat. Kreatif bisa membuat ngirit, dan ngirit bisa memunculkan perilaku kreatif... hmm jargon yang aneh ya :D
    Nah bagi kondisi aku pribadi, sepertinya yang cocok adalah "ngirit memaksa kita jadi kreatif". Jadi kreatifnya itu karena terpaksa, bukan bakat haha... ya maklum, jaman sekarang kan apa-apa mahal, di samping itu sumber daya alam kita ini kan makin terbatas ... so, pengiritan means penghematan sumber daya hoho. Eh tapi emang bener lho, sekarang ini kita mikirnya harus jauh ke depan. Kalau kita ngirit itu bukan semata-mata untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk alam raya tercinta ini. Contohnya saja; irit dalam pemakaian kertas berarti makin sedikit pohon yang ditebang, irit listrik berarti makin sedikit bahan bakar yang dipakai, dll.
    Nah kebetulan aku lagi belajar jahit juga, jadi kreatif dan ngiritnya sangat terwadahi. Karena apa? Karena apa-apa bisa bikin sendiri lho hihi. Berikut ini beberapa barang yang berhasil aku buat demi memuaskan hasrat kreatirit (kreatif nan irit) ku.
  • Bedcover simple
Kebetulan nih aku nemu kain perca yang lumayan lebar, dan terciptalah bedcover sederhana ini. Tiga kain digabungin jadi satu, lalu dalamnya diisi lembaran busa tipis. Tra ... la ... la .. jadi deh, lumayan bisa untuk ekstra selimut atau matras buat Ken klesotan di lantai. Sebenarnya awalnya mau coba bikin baju untuk Ken, tapi karena jahitnya lagi tahap belajar, jadi enakan jahit yang lurus-lurus dulu aja, lagian tanpa harus bikin pola kan.


  • Jampel

Aku tidak tahu ya bahasa Indonesia nya apa, kalau di daerahku disebut "jampel" yaitu alat penahan panas kalau kita lagi ngangkat-ngangkat perkakas dapur, semisal panci atau wajan. Nah ini project favoritku untuk belajar jahit, habisnya gampil banget, dan kebetulan di rumah banyak sekali kain perca. Kain tinggal dipotong kotak, jahit, dalamnya kasih busa, that's it.


  • Wadah serbaguna
 Wadah gantung ini paduan dari kain perca dan bekas perlak si bocil Ken. Perlaknya udah sobek sana sini, mau dibuang kok ya menuh-menuhin tempat sampah plus pasti nanti terurainya lama banget...(pecinta lingkungan wannabe) Walhasil jadilah benda ajaib ini. Lumayan buat naruh-naruh mainan atau apalah.

  •  Bunga untuk aplikasi
Penambahan aplikasi merupakan salah satu cara untuk mempercantik tampilan benda. Salah satunya dengan menambahkan aplikasi bunga dari kain perca. Mudah bingitts bikinnya, dan hasilnya pun saya suka. Perhatikan penampakan gambar berikut. Take a closer look pada bunganya, itulah hasil kreatirit ku.





  • Multipurpose box
 Kardus-kardus bekas bisa disulap jadi lebih cantik dengan membungkusnya dengan kertas kado. Nantinya kotak ini bisa untuk bungkus kado beneran atau hanya sebagai wadah serbaguna juga.  Kalau ini tidak perlu jahit menjahit sih, hanya lem-mengelem saja. 




Nah, bagaimana teman ... ngirit bener kan? hehe

Friday, December 12, 2014

Mbak Bidan Meragukan Kekuatanku


       Minggu 28 April 2013, HPL tinggal satu hari lagi dan aku belum merasakan apa-apa. Aku mulai resah, gelisah, gundah dan susah #lebay. Maklum ini adalah kehamilan pertama. Akhirnya kuajak suami menemani periksa ke bidan dekat rumah. Bidan bilang janin belum turun ke panggul padahal sudah bukaan satu. Ada beberapa kemungkinan; air ketuban terlalu banyak sehingga janin mengapung-apung, janin terlilit tali pusar, atau mungkin panggulku sempit. Sehingga bidan tidak berani menangani proses kelahiran ini dan siap memberikan rujukan ke rumah sakit. Kami hanya berpandang-pandangan. Otakku langsung tertaut pada kata operasi serta biaya yang membuatku merasa gimanaaaa gitu. Memang, terakhir periksa ke dokter 2 minggu sebelumnya, janin belum masuk panggul dan aku disuruh banyak jalan dan jongkok.
        Kami memutuskan untuk musyawarah dulu. Senin siang aku menemukan flek. Sorenya aku mengajak suami periksa ke dokter. Sampai sana pertama kali diperiksa oleh bidan muda. Mba bidan memeriksa berat badan, tinggi badan dan tekanan darah. Sambil nimbang dia bilang "Wah sampeyan kok kecil banget, apa kuat mengejan nanti?” Aku hanya tersenyum kecut, tak tau harus bilang apa. Emang sih, aku kayak orang busung lapar, hamil tua BB cuma 47 kg.
       Dokter bilang semuanya oke, tidak terlilit tali pusar, sudah bukaan dua dan insyaallah bisa normal. Beliau menyarankan untuk langsung mondok di kliniknya saja. Petang itu kami berangkat ke klinik persalinan. Aku dan suami tergelak-gelak masih kurang percaya kalau mau nglairin. Lha gimana, video senam hamil yang ngopy dari teman kantor itu aja belum ditonton, belum juga latihan pernapasan ..... duuh, aku jadi kalut.
        Jam 9 keluarga nengokin. Bapak memberiku sebotol air mineral yang harus kuminum. Aku ragu-ragu, karena rasanya tidak enak. Demi menyenangkan beliau aku mencecap dua teguk, dan ketika lengah suamiku tak suruh membuang separo... #menantu-jahil. (beberapa hari kemudian aku baru tahu itu air rumput Fatimah) 
Ken baru lahir

       Ketika mulai pegel-pegel, suami kupaksa untuk mengusap-usap pinggangku terus hihihi, dan aku berusaha tidur agar fit kalau nglahirin sewaktu-waktu. Jam 12 mulai mulas, namun bukaan belum nambah. Aku disarankan pindah ke ruang persalinan, mumpung masih kuat. Agak keder aku ketika masuk ruang persalinan.. Jam dua kontraksi makin kuat. Untung mulasnya ga terus-terusan. Jadi antara mulas satu dan lainnya itu ada jedanya. Setengah 3 aku merasa ada cairan menyembur. Aku meminta suami panggil bidan. Dalam waktu singkat bukaan nambah terus.
        Jam 3 proses persalinan dimulai. Aku diarahkan pada posisi melahirkan dan diminta untuk "latihan mengejan", ‘Bagus....!' kata dokter memujiku. Setelah ambil napas sejenak, dokter memberi arahan lagi. Namun beberapa saat tak kurasakan kontraksi, dua bidan asisten dokter beraksi. Perutku digelitikin dengan ditekan-tekan pakai ujung jari. Aku jadinya ketawa-tawa. Kontraksi datang lagi. It's the timeee .... Kuulang langkah-langkah seperti yang dijelaskan, namun tanpa sadar aku mengambil nafas disela mengejan, dokter memperingatkanku, akupun jadi panik dan bernafas serampangan. Aku berhenti, menenangkan diri, ambil ancang-ancang. Dokter menyemangatiku, katanya kepala bayi sudah kelihatan.Kuambil napas sedalam mungkin ... lalu...mengejan selama mungkin. Tak kuhentikan barang sedetikpun hingga terasa ada yang meluncur. Alhamdulillah ....Welcome to the world my baby!
    Jadi meskipun badan si ibu kecil belum tentu panggulnya sempit dan tidak kuat mengejan, yaaa!




Banner Giveaway Bunda Salfa [Update] Giveaway Ceritaku tentang Hamil dan Melahirkan

Ibu Rumah Tangga Penuh Semangat di Usia Cantik

Umur kami terpaut cukup jauh, yakni 11 tahun, tapi entah kenapa banyak orang-orang yang keliru mengenali kami. Terutama simbah-simbah d...

popular posts